Masjid Agung Sukabumi dan Cara Mengenang Sebuah Kota
Siapa yang pernah ke Kota Sukabumi? Jika belum, bisa dimaklumi sih. Jarang banget turis (domestik maupun internasional) yang singgah di kota termungil ketiga di Jawa Barat ini.
Memiliki luas 48,33 km² dan jumlah penduduknya pada semester pertama tahun 2025 sebanyak 373.189 jiwa, letak Sukabumi memang kurang strategis, berbeda dengan 2 kota terkecil lainnya. Kota Cirebon terletak di pesisir utara, dan Kota Cimahi yang menjadi penyangga Kota Bandung.
Andai tidak lahir dan menamatkan sekolah lanjutan, mungkin saya pun belum menginjakkan kaki ke kota yang mendapat julukan Kota Santri, Kota Polisi, dan Kota Mochi.
Julukan kota Santri sebetulnya kurang cocok karena kebanyakan pesantren berada di Kabupaten Sukabumi, bukan Kota Sukabumi.
Sedangkan julukan Kota Polisi disebabkan Akabri Kepolisian (yang mencetak perwira polisi) pernah berada di Kota Sukabumi, sebelum pindah ke Semarang pada 1 Juli 1980
Baca juga:
Lezatnya Lumpia Semarang dari Mbok Tenong Toko Trubus Yogyakarta
Belanja Pisang Kepok dan Kulineran di Pasar Gede Solo
Daftar Isi
- Sukabumi dan Sekelumit Kisahnya
- Masjid Agung Sukabumi, Untuk Pertama Kalinya
- Mengunjungi Ayah, Ibu dan Hudi di Kerkhof Sukabumi
- Mie Bakso Mang Jai, Kenangan Masa SMP
Bagaimana dengan Kota Mochi? Ah ini mah semua orang tahu bahwa Kota Sukabumi terkenal dengan oleh-oleh mochi dengan “rasa asli”, yaitu berisi campuran kacang tanah tumbuk manis. Sekarang kan isiannya bervariasi, mulai dari coklat lumer, matcha sampai es krim.
Namun bukan karena julukannya, juga bukan disebabkan ari-ari saya dikubur di kota yang dulu berhawa sejuk ini, melainkan tulisan Mbak Dian Restu Agustina di blognya tentang Cara Mengenang Sebuah Kota yang membuat saya terkenang dan menulis tentang Kota Sukabumi.
Banyak kisah yang tak mungkin dilupakan begitu saja ketika mengingat Kota Sukabumi, kisah yang memorable, salah satunya tentang kehidupan saya sebagai non muslim, sejak lahir hingga menyelesaikan sekolah di SMA Mardi Yuana, Sukabumi, kemudian melanjutkan kuliah (sambil bekerja) di Kota Bandung.
Mungkin banyak yang belum tahu, sebelum bergabung dengan Keuskupan Bogor, Kota Sukabumi pernah menjadi Prefektur Apostolik Sukabumi, atau pusat kegiatan umat Katolik di Sukabumi.
Gak heran, selain rumah hunian khas peninggalan Belanda, di Sukabumi banyak bangunan yang pernah menjadi “tempat penggembalaan” (istilah yang merujuk pada pelayanan para misionaris), seperti rumah sakit (RS St. Lidwina diserahkan pada pemerintah daerah Sukabumi dan menjadi RSUD R. Syamsudin, SH ), sekolah Yuwati Bhakti (dulu khusus murid perempuan), sekolah Mardi Yuana (dulu khusus murid laki-laki), serta infrastruktur jalan raya, rel kereta api, dan fasilitas lainnya.
Kunjungan ke Sukabumi kali ini hanya full sehari, sehingga menuliskannya butuh intro yang lumayan panjang.
Jalan kemana aja? Yuk kita kemon:
Masjid Agung Sukabumi, Untuk Pertama Kalinya
Yups untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pekarangan Masjid Agung, masjid terbesar di Kota Sukabumi yang berdiri megah, bersebelahan dengan alun-alun kota.
Alasannya, seperti ditulis di atas, saya non muslim sebelum urban ke Kota Bandung. Andai berkunjung pun, orangtua maupun adik yang tinggal di Kota Sukabumi sangat terbuka untuk perbedaan agama.
Naas kunjungan kali ini keluarga almarhum adik saya sedang ke Cibinong, jadi deh kita melaksanakan ibadah Zuhur di masjid tertua yang menjadi saksi sejarah perjuangan warga kala menghadapi penjajahan.
Berdiri pada tahun 1890 di tanah wakaf, masjid yang semula berbentuk musala, dengan bantuan para ulama bertransformasi menjadi masjid agung. Semula bernama"Masjid Kaum”, bangunan telah mengalami 6 kali renovasi hingga sudah kehilangan bentuk aslinya.
Menjejak kaki di lantai marmer yang sejuk, pengunjung akan diarahkan ke tempat wudhu. Saya berjalan ke bagian kiri, khusus muslimah. Sempat tertegun melihat banyaknya mukena yang digantung, semula saya pikir jualan, kok …
Ternyata bukan. Setiap hari mukena yang digunakan muslimah dicuci, dan yang saya lihat adalah deretan mukena bersih yang telah dicuci dan sedang dikeringkan. Owalah, pantesan, warna mukena menyiratkan bukan mukena baru.
Pasca wudhu dan salat, saya selonjoran sambil menikmati atap masjid. Walau anak saya mengemudikan mobil dengan nyaman, alarm tubuh berbunyi minta istirahat.
Tadi, sesaat sebelum masuk ke dalam masjid, saya sempat terkesima melihat fasad Masjid Agung. Kubah emas bergaya Timur Tengah nampak megah, berpadu dengan ornament kujang, senjata khas Jawa Barat di tiap menaranya.
Interior masjid tak kurang megah dan agung. Karpet yang didominasi warna merah elegan terhampar di ruangan utama yang luas. Sejumlah tiang dengan ornament kuning keemasan di bagian atas, berdiri kokoh di sudut-sudut ruangan.
Di area depan terdapat mihrab dengan ornamen kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat, serta lafadz Asmaul Husna pada lengkungan atap yang memperindah bagian interiornya.
Puas menikmati ruangan utama, saya beranjak keluar mencari anak saya yang sedang salat di area jamaah pria. Di bagian luar ternyata berjejer fasilitas umum seperti dispenser air minum (galonnya kosong), dan ATM Berkah bergambar Walikota Sukabumi dan wakilnya (niat amat ya? 😀😀)
Mengunjungi Ayah, Ibu dan Hudi di Kerkhof Sukabumi
Tujuan utama kami ke Kota Sukabumi memang berziarah ke makam ayah, ibu dan Hudi,adik bungsu saya yang meninggal pada usia 23 tahun (masih duduk di bangku kuliah).
Ketiganya dikebumikan di Kerkhof di Kota Sukabumi, sebuah area pemakaman non-Muslim bersejarah di atas bukit yang terkenal dengan pemandangannya yang indah, hingga sering digunakan warga untuk ngabuburit (menunggu buka puasa).
![]() |
| bagian depan kerkhoff Sukabumi |
Kerkhoff (Bahasa Belanda) sebetulnya berarti halaman gereja), karena zaman baheula makam terletak di dekat gereja.
Nah kerkhoff ini milik Paroki Santo Joseph, komunitas umat Katolik yang menjadi bagian dari Keuskupan Bogor (sudah saya tulis di atas). Berdiri sejak 1889, paroki ini telah melewati tiga zaman besar yaitu masa kolonial, pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan Indonesia.
Atau telah beberapa dekade umat Katolik berdomisili di Kota Sukabumi, sayangnya saya tidak menemukan rekam jejak kepemilikan tanah kerkhoff, kuat dugaan merupakan tanah hibah yang dikelola yayasan, karena hanya umat Katolik yang boleh dimakamkan di sini.
Hujan rinai mengiringi kedatangan kami. Saya hampir tersesat, maklum rumput tinggi memenuhi jalan setapak. Walaupun kami sudah membayar biaya perawatan yang cukup besar, namun rupanya hanya mencakup area nisan ayah, ibu dan Hudi yang dimakamkan secara berderet.
Mie Bakso Mang Jai, Kenangan Masa SMP
Pulang dari berziarah, perut krucuk-krucuk minta diisi, dan mulailah kita hunting kulineran Sukabumi yang sayangnya sering gak pas. Ketika saya mengusulkan satu destinasi kuliner dan anak saya setuju, eh area parkirnya penuh, gak jadi deh.
Ada beberapa yang nampak lengang, namun anak saya kurang cocok. Sampai akhirnya teringat kulineran sejuta umat: Mie bakso!
Dan bener aja, anak saya langsung setuju. Apalagi ditambah embel-embel: Ini langganan mamah sejak SMP lho.
Sebetulnya kurang tepat sih. Mang Jai yang punya nama lengkap H. Achmad Sudjai ini dulu berjualan bubur ayam di samping SMP Mardi Yuana (terkenal dengan nama Cikotengsi, karena ada 2 SMP Mardiyuana di Sukabumi).
Bubur ayam Mang Jai sangat khas, ada topping tumisan sayur yang enak banget dan bikin ketagihan. Jadi jangan heran, setiap memesan anak-anak akan bilang:”Sayurnya yang banyak, ya.”
Entah apa alasannya Mang Jai mengubah dagangannya menjadi mie bakso. Mungkin penyebabnya konsumen mie bakso lebih banyak, terbukti anak saya langsung mengiyakan, dilanjut memutar mobil dan parkir dengan mulus di depan warung bakso Mang Jai yang terletak berseberangan dengan sekolah saya, SMP Cikotengsi.
Seperti yang saya duga, warung bakso Mang Jai dipenuhi anak ABG dan keluarga muda. Untunglah kami segera mendapat tempat duduk dan bisa segera memesan.
Selain mie bakso, saya juga memesan es pala, minuman khas Sukabumi dan Bogor. Biasanya daging buah pala (sesudah bijinya diambil untuk rempah masakan), diolah menjadi manisan.
Nah di sini nampaknya manisan buah pala diolah lagi menjadi es pala, sehingga rasanya cukup menarik: Sepat bercampur manis dan agak alot (liat), mungkin seharusnya diiris tipis-tipis ya?
Bagaimana rasa mie baksonya? Rasanya standar saja. Gak Istimewa. Sesuai harganya. Saya memesan mie bakso besar, maka datang semangkuk mie, bihun, sayur sawi (caysim), taoge, dan bakso besar berisi daging cincang.
Selain mie bakso standar, pelanggan juga bisa memesan mie kocok (dengan topping tetelan kikil), mie ayam, yamien, yahun, dengan pilihan bakso besar, bakso kecil atau keduanya.
Jika rasanya standar, kok banyak peminat mie bakso Mang Jai? Mungkin karena letaknya strategis, di pusat Kota Sukabumi, lebih tepatnya di jalan Ir. H. Juanda. Tapi jangan bayangin jalan Ir. H. Juanda aka Dago, Kota Bandung ya?
Jalan Ir. H. Juanda di Sukabumi mirip jalan kuldesak di perumahan yang rindang dengan pepohonan. Bedanya jalan yang menghubungkan Jalan Samsudin SH dan jalan LL RE Martadinata ini pendek. Mungkin hanya dibutuhkan 5 menit untuk jalan dari ujung satu ke ujung lainnya, dan kembali lagi.
![]() |
| tampak depan SMP Mardi Yuana (Cikotengsi) |
Jalan Ir H. Juanda Sukabumi yang pendek ini pun hanya diisi bangunan sekolah, seperti SD Mardi Waluya, SMP Mardi Yuana (Cikotengsi), SMPN 2, SMAN 4, dan beberapa bangunan tempat tinggal yang jarang terlihat penghuninya.
Jadi, tertarik jadi wisatawan domestik di Kota Sukabumi? Banyak yang belum saya eksplor dan tulis lho, seperti misalnya batik Sukabumi, jajanan bandros (bentuk dan bahannya berbeda dengan bandros di tempat lain). bika ambon khas Sukabumi, serta masih banyak lagi.
Baca juga:
Ke Waduk Cengklik, Menikmati Indahnya Sunset Sambil Menyantap Soto Seger
Kopi Opak, Antara Kelezatan Mie Goreng, Mitos dan Gemercik Air Sungai














Wah ini sama banget, mbak. Aku kalo lagi jalan ama komunitas ke gereja. Aku suka foto-fotoin segala sudut yg menurut aku menarik. Sebagai muslim yg berkessmpatan masuk ke tempat ibadah agama lain, kalo diperbolehkan motret, langsung cekrek cekrek buat kenang-kenangan. In the end, eh liat es pala. Ya ampun, auto kepengen krn di Jogja kayae belum nemu yg jual es ini. Pol mentok baru manisannya aja. Kalo soal bakso mah udah satu selera. Tapi kalo aku suka bakso kuah aja. Salam kenal mbak. Aku Retno. Blogger Jogja.
ReplyDeleteSaya belum pernah ke Sukabumi, Ambu
ReplyDeleteSaya termasuk yang menimbang ada apa di sana ya, menarik enggak buat didatangi ya haha..
Membaca tulisan ini jadi pengin satu hari nanti berkunjung ke Sukabumi.. Justru dari kota yang biasa ada banyak hal yang bisa dieksplor ya.. Yang pastinya istimewa
Senangnya Ambu bisa bernostalgia di kota tempat dibesarkan dan penuh kenangan
Pengen cobain es pala Ambu. Soalnya saya penggemar manisan pala apakah mirip sensasi alot liatnya?
ReplyDeleteSaya pikir Kota Sukabumi itu sendiri populasi lebih ramai dan lebih berkembang dari Cirebon atau Cimahi ternyata malah sebaliknya. Karena sepertinya cukup banyak artis asli sana dan sering memention Sukabumi
Selain ziarah, agenda jalan-jalannya seru banget Mbak. Mengunjungi masjid dengan usia ratusan tahun pasti banyak cerita sejarah itu ya. Meski berkali-kali direnovasi pasti ada pertinggal cerita yang bisa tetap dibagikan ke hadapan publik. Dan ditutup dengan mie bakso kenangan. Hebat banget ya dah puluhan tahun tapi masih bertahan, berjualan, dan laku pulak.
ReplyDeleteMie bakso memang lebih banyak mengundang pelanggan. Siapa coba yang nggak doyan makan mie bakso.
ReplyDeleteIbarat kata nih, meski sudah kenyang kalau diajak ngemil mie bakso, pasti nggak bakal nolak sih. Hehehee....
Kota mochi, aih semoga suatu saat saya bisa berkesempatan ke Sukabumi, dan mencicip mochinya yang khas.
ReplyDeleteIya sih, nama jalannya sama, Ir H. Juanda , tapi beda kota, beda pula keramaian lalu lintasnya ya.
Pengen iiiih ke Sukabumi. Pernah nyoba naik KA Bogor-Sukabumi Ambu. Trus lanjut Sukabumi-Cianjur.
ReplyDeletePulang deh ke Bandung, pakai bus.
Jadi belum sama sekali explor kotanya.
Kan ada nih KA baru launching, Lelana apa gitu namanya.
Semoga bisa menyambangi Sukabumi nih...