Bakwan Kawi, Kelezatan Hidden Gem di Kampung Sudagaran
Apa sih yang dimaksud dengan “hidden gem”? Semula saya pikir yang dimaksud adalah makanan enak di tempat tersembunyi. Tapi kok banyak food vlogger yang menamakan "hidden gem" untuk kuliner di tengah kota yang gak banyak pengunjungnya, padahal rasanya enak.
Atau ada juga “hidden gem” hanya karena tempatnya terpencil. Padahal udah banyak yang datang. Salah satunya Warung Bakso Lela (Wale) di Rancakendal, Cigadung Bandung. Wale ini rame banget, apalagi di akhir minggu tempat parkirnya selalu penuh.
Setelah searching, nemu deh definisi "hidden gem":
Dalam istilah kuliner, "hidden gem" merujuk pada tempat makan yang tersembunyi, belum banyak dikenal, namun menyajikan makanan dengan cita rasa luar biasa dan seringkali memiliki harga terjangkau.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa "hidden gem" sering berada di lokasi yang tidak biasa, seperti di dalam gang sempit atau sudut kota yang kurang strategis, tetapi populer karena kualitas makanannya yang top.
Nah kuliner bakwan kawi yang saya temukan beberapa waktu lalu, mungkin tepat dinamakan "hidden gem", karena tempatnya tersembunyi, belum banyak dikenal, namun rasanya enak dan murah.
Bayangin, saya cuma bayar Rp 7.000 untuk semangkuk bakwan kawi dan segelas teh manis yang nyandu saking enaknya.
Baca juga:
Asyiknya Ngabakso di Bakso Djando Guntursari Bandung
Masjid Agung Sukabumi dan Cara Mengenang Sebuah Kota
Daftar Isi
- Tersesat di Kampung Sudagaran
- Beda Bakso Malang dengan Bakwan Kawi
- Semangkuk Bakwan Kawi nan Maknyuz
Saya menemukan bakwan kawi ini dalam perjalanan pulang dari perawatan fisioterapi di RS Ludira Husada Tama, Jl. Wiratama Yogyakarta. (kisah hebohnya saya tulisan lain kali ya? 😊😊)
Setelah pulang pergi naik ojol, saya dapat ide untuk pulang jalan kaki, karena ternyata ada jalan tembus yang membuat jarak rumah sakit dengan rumah eyang di Jalan Kemetiran jadi deket banget.
Dan jalan tembus antara jalan Kemetiran dan Jalan Wiratama itu bernama Jalan Sudagaran, tentunya sesudah menyeberang jalan arteri, yaitu jalan HOS Cokroaminoto dan Jalan Letjen Suprapto.
Sebagai bayangan, jalan arteri atau jalan utama merupakan jalan dengan lalu lintas tinggi, bisa dilalui sekaligus oleh beberapa kendaraan roda empat. Sedangkan jalan Wiratama dan jalan Sudagaran merupakan jalan lingkungan atau jalan kolektor sekunder, merupakan jalan akses permukiman/sejarah dengan lalu lintas yang lebih tenang.
Jalan Sudagaran ini melintasi Kampung Sudagaran, suatu kawasan seperti kawasan perkampungan Jogja lainnya: Penduduknya sangat guyub dan menjaga lingkungan. Terlihat dari penghijauan dan dibangunnya jembatan dengan ornamen-ornamen yang khas Jogja.
Sewaktu melihat Google Maps, nampaknya pernah dibentuk pusat kuliner di Kampung Sudagaran, sayangnya sekarang udah gak ada. Hanya tersisa penjual angkringan dan penjual Bakwan Kawi dengan beberapa pembelinya.
![]() |
| Kampung Sudagaran |
Saya juga sempat mencari tahu asal mula penamaan “Sudagar”, apakah ada kaitannya dengan profesi “Saudagar”? Berikut ini jawabannya:
Asal Nama "Sudagaran":
Nama "Sudagaran" berakar dari kata "saudagar" (pedagang). Secara historis, kawasan ini dikenal sebagai permukiman atau tempat tinggal para pedagang.
Kawasan Strategis:
Kampung Sudagaran terletak di Kemantren Tegalrejo, berada di barat laut Keraton Yogyakarta, dan diapit oleh dua sungai yaitu Sungai Winongo dan Sungai Code. Posisi ini menjadikannya kawasan yang strategis sejak dahulu.
Perkembangan Kampung:
Kampung Sudagaran Tegalrejo berkembang menjadi permukiman yang padat namun memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sosial. Saat ini, wilayah ini aktif mengembangkan ekonomi berbasis nilai agama dan kebersamaan.
Sudagaran Baru (Zaman Sekarang):
Saat ini, kawasan Sudagaran di Tegalrejo dikenal dengan inisiatif Kampung Panca Tertib untuk menjaga kenyamanan dan keamanan lingkungan. Selain itu, kawasan ini juga didorong menjadi kampung yang meningkatkan ekonomi warga, misalnya melalui program ZWCD (Zero Waste Compact District).
![]() |
| Sudut lain Kampung Sudagaran |
Penjelasan ini membuat saya terperangah. Solo traveling saya belum jauh, baru dari Bandung dan sekarang sekitar kawasan Kota Jogja pusat. Bagaimana dengan kawasan di luar Pulau Jawa seperti Balikpapan, Kalimantan Timur. Pastinya bakal lebih kaya dan beraneka ragam ya?
Untunglah saya punya teman seorang Travel Blogger Balikpapan yang juga merupakan Beauty Blogger Balikpapan. Dari postingan-postingannya, wawasan saya bertambah, seperti tulisan tentang kuliner, hotel serta pastinya postingan sekitar beauty blogger.
Beda Bakso Malang dengan Bakwan Kawi
“Bakwan Kawi” nama panganan yang tertera di gerobak berwarna hijau toska tersebut membuat saya mengernyitkan dahi. “Berpuluh tahun saya wara-wiri ke kota Jogja, kok baru tau ada panganan bernama Bakwan Kawi, apa bedanya dengan bakwan yang berasal dari Kota Malang?”
Seperti kita ketahui, “bakwan” merupakan semangkok kudapan terdiri dari berbagai bentuk bakso, baik yang direbus maupun yang digoreng. Kuahnya light, atau bumbunya gak medok/lekoh.
Pertama kali saya mengenal “bakwan” ketika masih duduk di bangku SD, dan diajak bulik (ibu cilik) aka adik almarhum ayahanda, ke pusat jajanan di Surabaya. Walau hanya bakso, gak ada mi dan atau bihun, melahap semangkok bakwan udah bikin kenyang banget.
Berpuluh tahun kemudian, saya bertemu kembali dengan kudapan rasa umami tersebut di Kota Bandung dengan nama “Bakso Malang” dan sudah berakulturasi dengan lidah penduduk setempat serta mendapat tambahan mi/bihun.
![]() |
| tetelan sapi pada bakwan kawi |
Bagaimana dengan Bakwan Kawi?
Hasil searching saya kurang memuaskan. Sebuah postingan di mojok.co menjelaskan bahwa mayoritas penjual “Bakwan Kawi” berasal dari Wonosari, suatu kawasan di Gunungkidul, Jogja. Juragannya pun bukan dari Malang, tapi orang asli Jogja.
Sang penulis juga mewawancarai Vianto, sejarawan Jogja yang belum menemukan data historis, dia hanya menduga sebagai berikut:
“Curigaku, antara dulu orang yang jualan itu berasal dari Jalan Kawi (Malang) atau dari orang-orang yang tinggal di sekitaran Gunung Kawi.”
Apapun dugaannya, penjual Bakwan Kawi gak hanya ditemukan di Kota Jogja, juga di Kota Surabaya, bahkan hingga Kota Jombang.
Hal ini menambah “curiga” (ikutan cara bicara Vianto 😀😀 ) bahwa Bakwan Kawi menyasar mahasiswa dan kelas menengah ke bawah, karena harganya hanya Rp 5.000/mangkok.
Di Cinanjung, Kabupaten Sumedang, saya juga menemukan mie bakso untuk kelas menengah ke bawah, tapi isinya mirip mie bakso pada umumnya yaitu mie/bihun, sayur sawi hijau, taoge, dan bakso.
Sebetulnya lebih tepat disebut pentol daripada bakso. tapi sudahlah, warga Jawa Barat gak (kurang) mengenal pentol. Mereka menamakan makanan berbentuk bulat ini dan berwarna abu-abu pucat ini dengan bakso.
![]() |
| bakwan kawi dengan pentol (bukan bakso) |
Semangkuk Bakwan Kawi nan Maknyuz
Jadi, apa bedanya bakso dengan pentol? Perbedaan terletak pada proporsinya. Contoh resep bakso: 500 gram daging sapi dicampur 50 gram tepung tapioca yang berfungsi sebagai perekat dan pengisi, agar bakso tidak hancur kala direbus.
Sedangkan resep pentol: 500 gram tepung tapioca dicampur 50 gram daging sapi, bahkan terkadang tanpa campuran daging sapi. Pentol hanya diberi perasa agar gurih menyerupai bakso.
Nah jelas bukan? Dalam semangkok “Bakso Malang” aka “Bakwan” tersaji berbagai bentuk bakso, sedangkan dalam bakwan kawi hanya ada pentol.
Seperti waktu saya memesan semangkok bakwan kawi pada Mbak Evi. Pemilik usaha bakwan kawi di Jalan Sudagaran tersebut mengambil tahu goreng dan pangsit goreng untuk dipotong-potong.
Hasil potongan tahu dan pangsit dimasukkan ke dalam mangkok, untuk diberi tambahan 1 (satu) buah pentol, tetelan daging, kemudian disiram kuah kaldu sapi yang panas, berwarna bening dan topping bawang merah goreng serta irisan seledri.
Rasanya? Tentu saja maknyuz, walau isian pangsit hanya adonan aci. Maklum harganya cuma Rp 5.000/semangkok. Apalagi ditambah sambal cabai rawit yang encer, pedas dan gurih.
![]() |
| teh legitel (legit kentel) khas Jogja |
Jangan lupa pesan teh manis juga. Paduan rasa yang saling melengkapi. Teh manisnya khas Jogja: Sepet, wangi, manis dan kental. Harganya pun murah banget, hanya Rp 2.000/gelas.
Merasa puas dengan jajanan lezat yang disantap di bawah rindangnya kawasan Kampung Sudagaran, dan ornamen punakawan (Semar, Gareng, Bagong, Petruk) di kejauhan, saya bermaksud memberi review di Google Maps, ternyata belum ada dong.
Jadi saya mencoba membuat titik destinasi (baru pertama kali nih), dan akhirnya bisa memasukkan nama Bakwan Kawi Mbak Evi serta Kampung Sudagaran.
Jika teman-teman sedang berwisata ke Jogja dan mencari tempat berselfie dan jajanan murah meriah, silakan datang ke sini. Mbak Evi yang sangat ramah ini membuka lapaknya mulai pukul 06.00 pagi sampai habis (biasanya sekitar waktu Zuhur)
Baca juga:
Bakpia Kukus Tugu Jogja, Setujukah Bukan Kuliner Khas Jogja?
Legitnya Kue Tart Ultah dari Toko Murni, Yogyakarta

.png)







No comments