Sejarah Tanjungsari Sumedang dan Menyicip Ricebowl Chicken Black Pepper di D'Riez Cafe & Resto

  
nyiomas.my.id

Sejarah Tanjungsari  Sumedang dan Menyicip Ricebowl Chicken Black Pepper di D'Riez Cafe & Resto


“Tanjungsari punya alun-alun?” tanya saya pada Ibu Atang, tetangga di perumahan Cinanjung , Tanjungsari, Kabupaten Sumedang Jawa Barat.  Dia telah tinggal di kompleks perumahan ini sejak tahun1990-an, jadi paham banget tentang kawasan yang kini saya huni.

Selama ini saya menyangka Tanjungsari hanyalah perkampungan biasa. Tempat tinggal petani dan peternak yang menjalani kehidupan sederhana seperti layaknya masyarakat agraris. Dan baru tersentak kala mengetahui berbagai event berlangsung di Tanjungsari, seperti  pacuan kuda dan adu domba.

Emang, apa hubungannya alun-alun dengan pacuan kuda dan adu domba?

Karena pacuan kuda dan domba merupakan event bergengsi yang mengidentifikasikan adanya budaya monarki di Tanjungsari. Ditambah keberadaan alun-alun yang biasa digunakan untuk melaksanakan fungsi sakral dan fungsi profan.

Fungsi sakral misalnya penyelenggaraan upacara-upacara religius dan penetapan jabatan pemerintahan.  Sedangkan fungsi  profan adalah untuk kegiatan pesta rakyat dan perayaan-perayaan tahunan.

Hehehe penonton drama Korea dan drama Cina bergenre kerajaan pasti paham apa yang saya maksud.

Baca juga:
Ramen Imam Bonjol, Pilih Review Jujur atau Tipu-tipu?

Endog Lewo Hingga Pisang Molen, Camilan Favorit untuk Ngonten

Daftar Isi

  • Tanjungsari Ternyata Bukan Sekadar Kampung Petani
  • Sejarah Tanjungsari Kabupaten Sumedang Jawa Barat
  • Menyicip Ricebowl Chicken Blackpaper di D'Riez Cafe & Resto

Terbentuknya system monarki  berawal dari kelompok masyarakat petani juga. Diantara mereka muncul petani-petani yang lebih cerdas (dan mungkin juga lebih licik 😀😀 ) dibanding petani lainnya, hingga mampu menguasai  tanah yang lebih luas.

Mereka ini kita kenal sebagai tuan tanah. 

Sebagai tuan tanah, pastinya mereka kaya raya seiring munculnya kebutuhan yang lebih banyak, seperti kebutuhan penggarap untuk tanah-tanahnya, keamanan agar keluarganya terlindungi serta kepastian pemasukan dari tanah-tanah yang mereka miliki. 

Gak heran setiap tuan tanah mempunyai satuan keamanannya sendiri. Semacam tentara pribadi gitu deh.

Kemudian, seperti umumnya kebiasaan manusia yang kerap  'senggol bacok’, para tuan tanah ini kerap berkelahi. Akhirnya, tuan tanah yang berulangkali berhasil menunjukkan keunggulannya akan menjadi pemimpin dari tuan tanah lainnya.

Dan system pemerintahan monarki pun dimulai.

nyiomas.my/id
Tanjungsari tempo doeloe (sumber: pikiranrakyat.com)

Sejarah Tanjungsari

Menurut Google searching, banyak sekali Kerajaan di Jawa Barat, diantaranya Kerajaan Cirebon yang berdiri antara abad ke-15 hingga abad ke-17 dan masih bisa dilihat jejak sejarahnya. 

Serta beberapa kerajaan yang tinggal nama, seperti kerajaan Banten, kerajaan Panjalu Ciamis, kerajaan Galuh, dan yang terdekat dengan Tanjungsari adalah kerajaan Sumedang Larang.

Melacak kerajaan di Indonesia, menghasilkan kesimpulan bahwa dulu kawasan Tanjungsari merupakan bagian dari Kerajaan Sumedang Larang. Tanjungsari dipimpin oleh seorang  “adipati”, atau “duke” dalam Kerajaan Inggris. CMIIW

Hal ini diperkuat fakta bahwa Tanjungsari pernah menjadi ibukota Parakan Muncang yang dipimpin Raja  Rd.  Tanubaya. 

Dibawah koloni  Inggris yang dipimpin Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Bingley Raffles (1811-1816), Parakan Muncang dibubarkan dan diubah menjadi kewedanaan yang membawahi Cikeruh, Cimanggung, dan Rancakalong

Dengan diubah menjadi kewedanaan, maka pemimpinnya (wedana) menjadi PNS dan digaji pemerintah.

Mencari jejak sejarah Tanjungsari saya lakukan karena sebelumnya asing banget dengan kawasan ini. Gak nampak sesuatu yang Istimewa setiap melintas menuju  Jawa Tengah. 

Yang berkesan hanya Sumedang. Selain disebabkan adanya beberapa teman yang tinggal di kota ini, juga beberapa kesenian Sumedang yang kerap tampil pada Festival Kesenian Jawa Barat di Bandung, seperti kuda renggong, kesenian reog sunda,  nyadap, tari jaipong, tari topeng jayengrasana, kesenian tarawangsa, serta upacara ritualnya, upacara seren taun dan ngaruwat jagat.

Sehingga saya tak berekspektasi adanya café tempat nongki-nongki di sini. Karena berbeda dengan Jatinangor yang terletak kurang lebih 6 km, di Tanjungsari gak ada universitas dan golongan masyarakat yang membutuhkan tempat nongkrongan bergengsi.

Ternyata saya salah, selain Warung X-Treme yang pernah saya tulis di blog ini, beberapa waktu lalu anak saya mengajak lunch di Dapur Kuliner D'Riez Cafe & Resto. Seperti apa sensasi menunya? Yuk kita review:
 

nyiomas.my.id

Menyicip Ricebowl Chicken Black Pepper di D'Riez Cafe & Resto

Gak ada tempat parkir, memunculkan impressi negatif, awal menjejak kaki di halaman Dapur Kuliner D'Riez Cafe & Resto.  Alih-alih tempat parkir, halaman depan cafe dipenuhi kursi, meja dan asesorisnya. Mereka yang butuh parkir silakan ke  deretan halaman ruko di sebelah café ini.

Hmmm…

nyiomas.my.id

Memasuki ruang depan Dapur Kuliner D'Riez Cafe & Resto, nampak sejumlah kursi dan meja layaknya resto, serta meja kursi berdudukan rendah yang nyaman digunakan untuk mengobrol dan atau berselancar di dunia maya dengan menggunakan laptop.

nyiomas.my.id

 

Berbagai asesoris, dan gambar berpigura digantung pada dinding. Seolah mempersilakan mereka yang ingin berfoto-foto dan mempostingnya di Instagram.  Oiya ada miniature  sepeda yang mengingatkan sepeda aslinya yang bergelantungan di Toko You Bandung.

nyiomas.my.id

 

Di bagian kiri café terlihat tangga menuju loteng. Mungkin antisipasi cafe dipenuhi pengunjung, atau untuk mereka yang ingin bersantap sambil menikmati keramaian jalan Tanjungsari.

Di bagian kanan ruangan, tertutup sekat setinggi bahu orang dewasa, nampak kitchen, kasir sekaligus penerima pesanan.  Daftar menu tersedia di sini. Tersedia makanan berat:
Aneka Rice Bowl

  • Ricebowl Chicken Blackpaper
  • Ricebowl Spicy Sesame
  • Ricebowl Chicken Teriyaki

Serta menu kekinian, seperti aneka  ayam geprek: Nasi Ayam Geprek Sambel Matah dan Nasi Ayam Geprek Hot Jeletot

Juga ada menu mie:  Mie Tektek Manis dan Mie Tektek Original. Harga menu makanan utama ini sekitar Rp 25 ribuan – 30 ribuan, termasuk aneka nasi goreng: Nasi Goreng Jadul, Nasi Goreng Cabai Hijau, Nasi Goreng Tradisional, Nasi Goreng Charcoal

Sejenak tergoda memesan mie, kemudian saya teringat untuk menghindari makanan khas seperti ini. Atau dengan kata lain,  jika ingin memesan ramen, udon, spaghetti, dan lainnya,  agar tidak kecewa, sebaiknya beli di resto yang  tekenal akan menu tersebut.

Karena itu saya pilih menu yang standar, yang anti gagal (keterlaluan kalo gagal 😀😀 ), yaitu Ricebowl Chicken Blackpaper. Sedangkan anak-anak saya memesan nasi goreng.

Bagaimana dengan snack-nya?

Untuk snack tersedia aneka pisang bakar, yaitu:  Pisang Bakar Cokelat, Pisang Bakar Keju Susu, Pisang Bakar Keju Cokelat, Pisang Bakar Milo, Pisang Bakar Keju Brown Sugar

Dan snack jadul yang selalu disuka, yakni: Roti Bakar Susu Cokelat, Roti Bakar Susu Cokelat Keju, Roti Bakar Susu Keju, Roti Bakar Susu Keju Milo dan Roti Bakar Susu Milo.

Serta tersedia Tahu Cabai Garam, French Fries Original, French Fries Cheese dan French Fries Barbeque. Sedangkan menu beverages ada beberapa pilihan:

  • Americano
  • Black Coffee
  • Espresso
  • Hazelnut Latte
  • Caramel Latte
  • Cafe Latte
  • Cappuccino

 

maria-g-soemitro.com

Juga ada aneka minuman bersoda, seperti Ocean Blue Soda, Green Lemon Soda, Pinky Lemonade, Funny Mango Soda. Juga tersedia beragam es, seperti Ice Leci, Ice Anggur, Ice Leci. Ice Jeruk, Ice Milo dan Teh Manis.

Kecuali Teh Manis, harga aneka minuman sekitar Rp 25.000-an, demikian juga aneka susu, seperti Susu Strawberry, Susu Vanilla, Susu Segar. Serta aneka Yakult, yaitu Creamy Strawberry Yakult, Creamy Orange Yakult dan Creamy Melon Yakult.

Bagaimana sensasi rasanya?

nyiomas.my.id

 

Saya beruntung memesan Ricebowl Chicken Blackpaper. Tersaji dalam bowl keramik berisi nasi putih dengan porsi cukup, dengan topping daging ayam yang lebih condong ke rasa bumbu yakiniku dibanding bumbu black pepper, mungkin karena itu dalam menu tertulis blacpaper dan bukan black pepper ya?

Dikatakan beruntung karena Ricebowl Chicken Blackpaper rasanya standar, gak terlalu asin seperti mie dan nasi goreng yang dipesan anak-anak saya. Gak heran muncul review dari Local Guide Google:

Kali ke 2 kesini dan makanan yg dipesen ANCURRRR PARAH lumpia udang yg asin, mie dan kwetiau yg cuma ada rasa kecapnya aja. Untung bulan puasa. Katanya ganti koki "okelah ini jadi kali terakhir"

Walau review bagus dari Local Guide Google gak kalah banyak:
Lokasi mudah di temukan ada nama upnormal coffeenya besar, area parkir banyak untuk motor dan mobil, area usaha ada ruangan indoornya ada juga outdoornya, ada 2 lantai, tersedia banyak meja dan kursi, wastafel, toilet, dan juga mushola. Variasi menu makanan dan minuman banyak, soal rasa udah pasti mantaaaap, harga relatif, dan pelayanan sangat ramah. banyak spot foto yg menarik juga karena konsep desai area usaha sangat menarik, cocok untuk family time, teman nongki ataupun dinner, yukk mampirrr..

 

nyiomas.my.id
ruangan luas di bagian belakang

Dapur Kuliner D'Riez Cafe&Resto


Dapur Kuliner D'Riez Cafe&Resto nampaknya lebih cocok untuk mereka yang mengadakan event, seperti perpisahan, reunian, arisan, ulang tahun dan lainnya. Event yang pesertanya gak terlalu membutuhkan makanan enak, hanya ingin berkumpul, sosonoan dan semacamnya, sehingga membutuhkan ruangan yang luas.

nyiomas.my.id

Terlebih tersedia es lilin aneka rasa di Dapur Kuliner D'Riez Cafe&Resto.

Baca juga:
Warung X-Treme Tanjungsari dan Etika Review Kuliner

Resep Tahu Sumedang Isi Sayuran dan Sejarah Tahu Sumedang

Dapur Kuliner D'Riez Cafe&Resto
Features:
Сredit cards accepted
Delivery
Outdoor seating
Takeaway
Booking
Buka setiap hari: pukul 10.00-21.00 WIB
Alamat: Jl. Raya Tanjungsari No.154a, Marga Jaya, West Java, Indonesia


12 comments

  1. Wow, pembukaannya keren banget. Ternyata Mbak Maria paham juga ya sejarah Tanjungsari. Btw fotonya aestetik sekali. Pasti kafe keren itu. Thanks for the info.

    ReplyDelete
  2. Tanjungsari baru denger aku mbak. Masih ada ya budaya yang melestarikan adu domba. Duuh malah ngiler es lilinnya aku. Udh lama gak icip es lilin sejak jaman SMP. Btw Cozy bgt ya Dapur Kuliner D'Riez Cafe&Resto

    ReplyDelete
  3. Wih ada menu Nasi Goreng Charcoal, kayak apa ya bentukannya.
    Hmm... semoga Dapur Kuliner D'Riez Cafe&Resto makin baik ya dalam pengolahan menunya, menghasilkan cita rasa yang meninggalkan kesan mendalam bagi pengunjungnya, kesan baik tentu saja.
    Atau karena nggak ada pesaing ya, jadi walau rasa kurang memuaskan, kurang ada perbaikan

    ReplyDelete
  4. Dengan beberapa review sepertinya bisa jadi bahan evaluasi manajemen cafe untuk lebih meningkatkan kualitas cita rasa masakannya. Soalnya rasanya sayang banget dengan suasana cafe yang udah nyaman kalau gak diikuti dengan rasa makanan yang enak.

    ReplyDelete
  5. Sejarah Tanjungsari ternyata menarik setelah dicari info lengkapnya, jadi ingat pepatah tak kenal maka tak sayang.
    Penatan cafe-nya Ricebowl driez kalau melihat dari fotonya sangat nyaman, menu yang disajikan juga nampak menarik, sayang banget cita rasanya kurang memuaskan lidah yang menyantap. Semoga menjadi evaluasi bagi pemilik cafe.

    ReplyDelete
  6. Ricebowl Chicken Black Pepper terlihat menggugah selera Ambu, jadi pengen cicip-cicip dah, hahaha.
    Keren banget nih, bukan cuman mencicipi makanan, juga menikmati suasana cozy di D'Riez Cafe&Resto, tapi juga mengerti sejarahnya :)

    ReplyDelete
  7. Terkadang aku suka membaca sejarah. Lebih ke membayangkan gimana kondisi kehidupan di jaman itu.

    Termasuk di Tanjungsari ini.

    Tapi eh tapi. Menyoal soal makanan di cafenya, beneran keasinan itu nasi goreng dan mienya.

    Mungkin benar yang dibilang. Baru ganti chef.

    ReplyDelete
  8. Tadinya saya pikir tanjung sari itu bagian dari makanan, ternyata sejarah daerah tempat kafe ini berada. Saya malah baru kali ini dengar nama daerah Tanjung Sari. Ngga ada foto terbaru dari Tanjungsari ya Ambu? Penasaran apakah seperti desa2 pada umumnya, ada sawah, kebun dll.
    Btw, suka sama minatur sepeda. Kirain itu tadinya sepeda beneran kok ya sayang banget dipajang, haha

    ReplyDelete
  9. salut dengan sejarah tanjungsari ini, saya baru terkonek, alun-alun ternyata punya sejarah yang bisa diceritakan begini ya ambu. Dijadikan tempat untuk mengikat momen masyarakat setempat. Jadi penasaran dengan tangjungsari tempo sekarang, hhhe. Betewe, dapat ilmu baru dalam mengecek kualitas rasa, dan enggak salah tafsir masuk ke resto ya. Dari tulisan blacpaper atau black pepper :)

    ReplyDelete
  10. Sayang banget kalau citarasa tidak disesuaikan dengan nama menunya, pasti ada perasaan terjebak, gak puas, dan yah gitulah. Padahal tempatnya nyaman banget. Semoga ulasan di google menjadi masukan lebih baik lagi. Penting untuk kelanjutan cafe begini

    ReplyDelete
  11. Berarti Tanjungsari ada di Jawa Barat ya, Ambu? Jujur saya baru dengar nama kota ini. Biasanya nama jalan hehe. Btw, asik banget ada es lilinnya. Favorit saya tuh!

    ReplyDelete
  12. Wah, aku baru tahu dengan sejarah Tanjungsari ini. Ada ceritanya ternyata ya. Beberapa kali ke sana ya cuma ngelewat aja. Aduuuh, itu ricebowlnya bikin ngileeeer. Aku jadi lapar ih :D

    ReplyDelete