Berburu “Kapok Lombok” di Kampung Kecil Jogja

   
nyiomas.my.id
 Berburu “Kapok Lombok” di Kampung Kecil Jogja 

Pernah dengar peribahasa “Kapok Lombok”? Artinya rasa menyesal atau kapok yang hanya bersifat sementara dan tidak sungguh-sungguh, sehingga suatu saat akan diulangi lagi.
Sedangkan arti harfiahnya dalam bahasa Jawa “kapok” artinya “menyesal/jera”, dan “Lombok” artinya “cabai”. 

Saya teringat peribahasa “Kapok Lombok” ketika menulis review masakan resto Kampung Kecil ini, lebih tepatnya tentang sambal yang disantap bareng bebek goreng kremes.

Sebagai emak-emak yang hobi mencoba resep masakan, salah satu yang belum saya eksekusi adalah resep bebek goreng. Banyak penyebabnya, diantaranya dibanding ayam, kulit bebek jauh lebih tebal dan berlemak.

Serat daging bebek juga lebih padat dan keras. Namun yang paling “menakutkan” bebek tuh punya kelenjar bau dan kandungan lemak hewani yang khas, sehingga jika salah masak, daging bebek menguarkan aroma prengus.

Malesin kan? Jadi mending beli aja. Setiap ada kesempatan mencicip hidangan suatu resto, jika menunya mencantumkan bebek goreng, pasti saya pesan. 

Baca juga:
Bakmi Godog, Kuliner Nonfusion Food yang bikin Kontroversi

Bakwan Kawi, Kelezatan Hidden Gem di Kampung Sudagaran

Daftar Isi:

  • Berkenalan dengan Bebek Goreng di Kampung Kecil Yogyakarta
  • Berkenalan dengan Kampung Kecil Yogyakarta
  • Kisah Kremesan yang Menggoyang Lidah
  • Rasanya Ngeraja, Harganya Ngerakyat

Pernah zonk juga sih. Sewaktu mencoba suatu resto yang terkenal sambalnya, dan punya banyak cabang. Bebek goreng yang tersaji sangat keras sehingga sulit dikunyah.

Anehnya saya gak kapok, tetap memesan bebek goreng andai masakan tersebut tercantum di menu. Seperti ketika beberapa waktu lalu kami berempat mencoba menu resto Kampung Kecil di Jl. HOS Cokroaminoto, Yogyakarta.

Anak saya yang tinggal di Solo emang rajin mengajak emaknya kulineran. Maklum, saya cuma tahu destinasi kuliner sekitar Malioboro Yogyakarta, dipersempit lagi sekitar Kemetiran atau Kampung Wisata Sosrowijayan.

Jadi ketika dia mengarahkan kendaraannya masuk Kampung Kecil, dan pasca mencari tempat duduk yang nyaman, saya pun segera mencari bebek goreng di antara menu makanan. Untung ada.

Bagaimana rasanya?

Sebentar, sambil menunggu masakan tersaji, yuk kita berkeliling mencari kekhasan resto Kampung Kecil ini.

nyiomas.my.id

Berkenalan dengan Kampung Kecil Yogyakarta

Hasil searching memunculkan PT Bakul Nasi Bersama sebagai pemilik resto ini. dengan Fredy Fonda dan Aan Sukeri sebagai petingginya. Keduanya bukan selebriti. 😀  Syukurlah, karena berharap tulisan ini masih relevan 2-3 tahun mendatang. 😊😊

Terlebih para petinggi rupanya benar-benar memikirkan konsep resto Kampung Kecil. Pengunjung serasa memasuki perkampungan Sunda yang berisi saung/gazebo, mengingatkan saya pada kawasan tempat tinggal Teh Okti, seorang Kreator Digital Cianjur.

Saya mengenal Blogger Cianjur ini belasan tahun silam, sejak masih menjadi kompasianer (kontributor Kompasiana). Tulisan Teh Okti sebagai buruh migran di Taiwan tentang razia Indomie oleh Departemen Kesehatan Taiwan pada Minggu (09/10/2010), pernah menghebohkan Indonesia.

(Sesakti itu tulisan-tulisan kompasianer dulu, ya?😊😊)

Sesuai julukannya: “Blogger Cianjur”, setelah kembali ke Tanah air,  Teh Okti tinggal di Cianjur,  menikah dan memiliki seorang anak bernama Fahmi.

nyiomas.my.id

Saya belum pernah ke rumahnya sih. Hanya menduga lingkungannya ecogreen, seperti Kampung Kecil meniru suasana pedesaan yang pikabetaheun (Bahasa Sunda: bikin betah).

Terlihat dari penggunaan kayu dan bambu sebagai bahan baku bangunan, serta kolam penuh ikan koi wara-wiri, berenang di kolam  yang melingkari Kampung Kecil. Di beberapa lokasi nampak elemen asap putih yang menciptakan atmosfer sejuk, alami, misterius, dan dramatis.

nyiomas.my.id

Konsep pedesaan yang ramah anak juga terlihat pada fasilitas playground yang selaras dengan desain restoran. Di sini anak-anak bisa memberi makan pada ikan, bermain bola, perosotan dan alat permainan lain yang aman untuk anak-anak

nyiomas.my.id

Kisah Kremesan yang Menggoyang Lidah

Meski mengusung konsep pedesaan tanah Pasundan, dengan jujur pengelola Kampung Kecil bilang bahwa menu yang dihidangkan adalah masakan khas Nusantara, salah satunya karena ada kremesan dalam bebek goreng, ayam goreng, ikan goreng, cumi goreng dan lauk prohe gorengan lainnya.

Emang kenapa?

Karena kremesan berasal dari daerah Jawa Tengah, terutama Yogyakarta. Kata kremes berasal dari bahasa Jawa yaitu ‘kremes” yang berarti cara mengunyah makanan yang renyah. 

Ada pula yang berpendapat bahwa kremes berasal dari kata “kumremes” yang artinya renyah dan mudah hancur atau getas saat dikunyah. Apa pun itu, istilah ini dipakai untuk menggambarkan tekstur makanan yang garing.

Almarhum Bondan Winarno, pakar kuliner Indonesia dalam bukunya: “Mak Nyus: Aneka Resep dan Kisah Kuliner Nusantara” menulis bahwa ayam kremes pertama kali dikenalkan oleh pengusaha kuliner di Yogyakarta pada tahun 1980-an. 

“Ayam kremes merupakan modifikasi dari ayam goreng biasa yang diberi tambahan kremesan agar lebih menarik dan memiliki ciri khas tersendiri,” kata Bondan.

Rupanya banyak yang menyukai hasil inovasi menyajikan ayam goreng tradisional dengan taburan kremesan, hingga akhirnya menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.

Rahasia kelezatan ayam kremes dimulai ketika ayam diungkep dengan bumbu kuning sebelum digoreng, sehingga bumbunya meresap dan dagingnya empuk.

Bumbu ungkep yang tersisa diberi campuran air/ kaldu ayam dan tepung tapioka, lalu digoreng hingga kering dan menjadi remah-remah gurih.

Selain gurih dan renyah, kelebihan lain dari lauk pauk kremes adalah kemampuannya yang fleksibel untuk dipadukan dengan berbagai jenis sambal dan sayuran pelengkap.

Gak heran banyak rumah makan menjadikan lauk pauk dengan taburan kremesan sebagai menu favorit.

nyiomas.my.id

Rasanya Ngeraja, Harganya Ngerakyat

Slogan “Rasanya Ngeraja, Harganya Ngerakyat” emang tepat diusung resto Kampung Kecil karena dengan suasana yang sangat nyaman dan memanjakan, pengunjung cukup merogoh kocek mulai dari Rp 300 ribuan untuk 4 orang yang berisi nasi liwet, lauk pauk komplit, sayur asem, dan minuman (es teh/es jeruk).

nyiomas.my.id

Sambil menunggu masakan matang, pengunjung juga bisa mencicipi cotton candy (gulali atau harum manis) gratis (setelah memberi review 5 bintang), serta tentu saja tersedia fasilitas gratis isi ulang (free refill) untuk teh tawar dan es batu.

Apa saja menunya? Seperti tertulis di atas, walau menyebutkan masakan khas Nusantara, namun lebih condong ke masakan khas Sunda. Terlihat dari pilihan menunya. 

Selain pilihan nasi putih atau nasi liwet, tersedia olahan ikan ( gurami nila, patin atau lele), ayam, bebek, sea food serta daging sapi, dengan pilihan bumbu dan kondimen seperti bakar madu, goreng kremes, asam manis. cobek mertua, cobek sambal matah, cabe ijo, masak pedas dan masih banyak lagi.

Menu sayuran juga sangat condong ke masakan Sunda, yaitu: karedok, sayur asem, kangkung ongseng, dan fusion food seperti buncis telur asin.

Apa saja yang kami pesan?

Seperti tertulis di atas, saya memesan bebek goreng kremes, kakak saya memesan Ikan nila goreng kremes, anak saya cumi goreng kremes sedangkan menantu saya kerang masak pedas.
Selain itu ada tambahan buncis telur asin serta minuman es cendol dan es kuwut.

Nah ketika memesan inilah petugas menawarkan paket, seperti pesanan kakak saya, selain ikan nila goreng kremes, akan mendapat nasi dalam bakul juga gratis sayur dan teh tawar panas.

Bagaimana rasanya? Kita kupas bebek goreng kremes dulu ya?

nyiomas.my.id

Langsung membubuhkan sambal ke nasi dan bebek goreng, saya merasakan pedas yang menyengat. Hanya pedas saja, gak muncul rasa asin, manis dan gurih.

Sayang banget, karena rasa sambal menutup rasa  rempah bebek goreng. Untunglah tekturnya empuk dan kremesannya sangat  renyah.

nyiomas.my.id

Beruntung kakak saya gak suka pedas, sehingga saya bisa mencoba ikan nila goreng kremes-nya. Jadi saya bisa menebak bahwa juru masaknya cenderung kurang medok ketika membumbui prohe (protein hewani).

nyiomas.my.id

Kerasa banget sewaktu saya cumi goreng kremes. Rasa bumbu dan rempahnya kurang nendang, namun dimasak dengan tepat sehingga daging cumi terasa empuk, juicy, kenyal, dan tidak keras (alot).

Tentu saja itu soal selera, terkadang bahan (ayam, bebek, cumi) tidak diberi bumbu terlalu banyak oleh juru masak, dengan pertimbangan pelanggan akan menikmatinya dengan sambal yang pastinya berbumbu juga.

Sayangnya sambalnya failed. Hanya terasa pedas. Gak muncul rasa asin, manis, asam dan gurihnya. Pastinya ini soal selera ya?

nyiomas.my.id

Demikian pula sewaktu saya mencoba kerang masak pedas. Tanpa nasi, sensasi gurih, pedasnya cukup terasa, dan (yang terpenting) gak amis.

nyiomas.my.id

Buncis telur asin, semula bikin penasaran karena menggoda banget. Setiap potongan buncis dibalur tepung berbumbu sebelum digoreng dan ditumis lagi dengan saus telur asin. Rasanya? Kembali kurang nendang.




 Terbuat dari serutan melon, perasan jeruk nipis, biji selasih serta sirup melon, es kuwut emang seger banget pasca menyantap masakan prohe yang pedas.
Es cendol kita review dengan membandingkannya dengan es dawet ya?


nyiomas.my.id

Bagaimana dengan sayur asem dan karedoknya? Mmmm…..sebagai pemilik lidah Sunda, rasanya B saja. Terlebih karedok, bumbunya seperti bumbu gado-gado. Mungkin ditujukan untuk masyarakat luas yang kurang akrab dengan bumbu karedok yang asli.

Jadi bagaimana? Apakah akan kembali lagi ke “Kampung Kecil”? Pastinya. Asalkan pengelola selalu menjaga kenyamanan dan kebersihan, serta pastinya menambah sentuhan rasa umami, asam, manis, dan aroma sedap pada sambal yang membuat lidah bergoyang.

Agar pelanggan bisa “kapok Lombok”, atau tetap datang karena ketagihan walau pernah kepedasan. 😀😀

Baca juga:

Menggoyang Lidah dengan Pasta de Carne di Wheels Dago, Destinasi Cozy di Bandung Utara

Menikmati Kelezatan Fusion Food dalam Keteduhan Taman Saparua Bandung


Kampung Kecil Yogyakarta
Alamat: Jl. HOS Cokroaminoto, Tegalrejo, Kec. Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55241
Telepon: 0811-8120-7101
Jam: Buka · Tutup pukul 10.00 – 22.00 WIB
Kisaran Harga: Rp25.000-75.000/orang


No comments