Roti Priangan, Legenda Bakery Sukabumi Sesungguhnya
“Bolu Tjilaki disebut legend? Yang bener aja, dia kan baru ada tahun 2024”. Kurang lebih demikian bunyi utas seorang pemilik Threads yang kesal terhadap review seorang “foodie”
Spontan saya ketawa, karena punya pendapat yang sama. Akhir-akhir ini banyak banget akun yang ngaku “foodie” bicara asbun tentang produk yang direview-nya. Mungkin dampak semakin murah dan mudahnya gadget serta harga kuota internet, yang memunculkan banyak konten kreator baru.
Padahal bisa banget dia ngaku aja sebagai “food lover” bukan “foodie”. Seorang food lover cukup menikmati rasa makanan, kemudian bilang cocok/tidak cocok karena yang disantapnya bukan comfort food, dan gak usah ngasih penilaian yang berlebihan, baik memuji maupun menjatuhkan makanan yang dinikmatinya.
Hal ini bisa dimaklumi karena food lover umumnya gak fokus membuat konten tentang makanan. Konten mereka tentang lifestyle, dengan kulineran sebagai salah satu aktivitasnya.
Baca juga:
Legitnya Kue Tart Ultah dari Toko Murni, Yogyakarta
Juwara Satoe, Rekomendasi Bakpia Lezat dari Kota Jogja
Daftar Isi:
- Beda Food Lover dan Foodies
- Nostalgia Roti Priangan d/h Oey Tjiang Lie
- Berkunjung ke Legenda Bakery Sukabumi Sesungguhnya
Beda halnya dengan foodies, mereka ini “pecinta kuliner”. Mereka berburu makanan gak sekadar disebabkan viral, juga tempat baru serta menu eksperimental.
Seorang foodie akan belajar mengenai estetika, tren, asal-usul, dan keunikan makanan, hingga latar belakang koki, sejarah makanan, serta membaca/mencermati ulasan kritikus.
Sehingga ketika mereka mengunggah konten di media sosial, ulasannya akan menambah wawasan karena gak sekadar mencantumkan tempat, terlebih penjelasan asbun dengan pemakaian kata “hidden gem’ dan “legend”
Jadi, apa bedanya food vlogger dengan foodie?
Food vlogger merupakan kreator konten yang khusus merekam, mengedit, dan mengunggah video ulasan makanan ke platform digital seperti YouTube, TikTok, atau Instagram.
Mereka mengulas secara mendetail mulai dari rasa, tekstur, harga, suasana tempat, hingga lokasi. Sederhananya begini:
“Semua food vlogger pasti seorang foodie, tetapi tidak semua foodie adalah seorang food vlogger”
Nostalgia Roti Priangan d/h Oey Tjiang Lie
“Besok pulang gereja, ibu beliin roti tanduk,” kata almarhum ibunda pada kami anak-anaknya. Janjinya kerap muncul seiring perayaan tertentu, seperti perayaan ulang tahun, atau peringatan hari besar agama Katolik (Paskah, Natal)
Sedangkan yang dimaksud “roti tanduk” adalah salah satu jenis roti berbentuk tanduk yang diproduksi pabrik roti Priangan Sukabumi milik Oey Tjiang Lie, seorang keturunan Tionghoa.
Bagi kami ber-enam, anak yatim sejak usia ibunda masih 33 tahun dan adik bungsu berumur 3 bulan, adalah sesuatu yang mewah jika bisa menyantap roti tanduk: setiap anak satu buah roti.
Biasanya kami akan berlama-lama menyantapnya. Kami “mengupas” serat demi serat roti yang memanjang halus dan empuk, seolah berkhidmat agar roti yang rasanya umami dan beraroma butter tersebut tidak cepat habis.
Kami tidak tahu alasan ibunda memilih roti tanduk dan bukan roti Priangan lainnya seperti roti coklat atau roti nenas, tapi kami bersyukur dalam keadaan keuangan yang terbatas, beliau selalu berusaha menghadirkan “makanan mewah”, sehingga bisa nyambung jika teman-teman membicarakannya.
Tidak hanya keuangan yang terbatas, dengan latar belakang pendidikan yang “cuma” lulusan Sekolah Kepandaian Putri (SKP), ibunda berusaha agar anak-anaknya lulus perguruan tinggi.
Ingatan akan ibunda muncul ketika beberapa waktu lalu berbincang via WhatsApp dengan Alienda Sophia, teman blogger yang kerap bertemu pada acara yang digelar Blogger Bandung.
Obrolannya tentu saja gak jauh sekitar Lifestyle Ibu Rumah Tangga, khususnya karena setelah anak sulung dan anak kedua berusia 11 tahun dan 9 tahun, Manda (nama panggilan Alienda) dipercaya lagi oleh Allah SWT untuk melahirkan seorang bayi yang sehat dan lucu.
Jika mengingat ketidak berdayaan perempuan zaman dulu, Manda sungguh beruntung, bisa “menarik napas” sejenak. Saya membandingkan dengan yang dialami ibunda, dalam rentang waktu pendek harus berulangkali hamil dan melahirkan.
Barangkali, andai Tuhan tidak memanggil almarhum ayahanda dalam usia yang begitu muda, ibunda bakal punya banyak anak. Tidak hanya 6 anak, tetapi mungkin 12 orang, bahkan lebih. 😀😀
Keyakinan ini semakin kuat karena Gereja Katolik melarang umatnya menggunakan alat atau metode kontrasepsi buatan. KB hanya boleh dilakukan dengan metode KB Alamiah (KBA), seperti sistem kalender atau pengukuran suhu basal tubuh.
Berkunjung ke Legenda Bakery Sukabumi Sesungguhnya
Roti Priangan sungguh unik. Berdiri sejak 1943, pabrik roti ini gak punya toko! Setiap selesai memproduksi roti, biasanya siang hari, hasil produksi langsung dijajakan berkeliling Kota Sukabumi dengan menggunakan gerobak biru yang khas.
Selain itu, ada juga yang dititipkan pada penjual tertentu. Seperti tenant tempat kami sekeluarga membeli, yaitu milik Om Oey yang punya kaitan persaudaraan dengan keluarga Oey Tjiang Lie, pendiri dan pemilik Roti Priangan, sayang saya lupa ceritanya karena udah lama banget.
Merupakan kenalan gereja ibunda, Om Oey membuka gerai sederhana di garasi rumah yang baru buka siang hari, sekitar pukul 12.00 WIB dan biasanya sudah habis menjelang pukul 18.00 WIB.
Dalam rangka bernostalgia dengan roti Priangan, bulan Juni 2026 silam saya mengunjungi pabrik roti Pasundan di Jalan Parigi Sukabumi. Selain karena Om Oey sudah tiada, saya juga gak tahu lokasi gerobak biru roti Priangan biasa mangkal.
Ternyata sederhana banget! Hanya ada dua spanduk penanda keberadaan pabrik roti Priangan, di kanan dan kiri pintu, malah salah satu spanduk merupakan promosi salah satu brand air minum kemasan.😀😀
Vibes sederhana dan jadul lebih terasa ketika memasuki lingkungan pabrik. Gerobak biru, dengan handuk putih kecil khas milik pedagang keliling tersampir di gagangnya, nampak sedang parkir di depan pintu pabrik.
Cahaya suram namun dipenuhi aroma harum roti yang dibakar, menyambut setiap tamu yang datang. Wanginya agak menyengat, hingga saya menduga BOS (Butter Oil Substitute) sebagai pengganti butter yang semakin melangit harganya.
Pengunjung juga disambut keunikan dan kesederhanaan pabrik yang tidak menyajikan roti dalam rak, melainkan digelar pada semacam meja semen yang terbuat dari keramik retak.
Meja tersebut dipenuhi loyang-loyang berisi roti yang baru keluar dari oven. Seorang pria nampak sibuk membungkus roti yang mulai dingin dan menatanya ke dalam gerobak biru, pria lainnya mengeluarkan roti dari oven. Dia membelakangi tembok yang ditempeli beberapa gambar dan foto (Presiden Soekarno dan mungkin almarhum Oey Tjiang Lie) serta price list berikut ini:
Beberapa pengunjung datang ketika saya sedang asyik memilih roti. Gak sengaja menguping pembicaraan mereka, dan ternyata seperti saya: Mereka juga sedang bernostalgia dengan roti Priangan. 😀😀
Setelah memilih beberapa roti, mereka sibuk berpotret ria, kemudian sambil bercanda mengirimkannya ke grup WhatsApp. Keceriaan mereka mengingatkan saya pada Gayatri dan beberapa teman alumni SMP di Sukabumi yang beberapa waktu lalu napak tilas dan mengirimkan foto-foto stasiun kereta api, bangunan sekolah kami dan roti Priangan.
Sebelum meninggalkan lokasi pabrik roti Priangan, saya sempat mengintip bagian dalam pabrik dan melihat oven-oven kuno yang mungkin menjadi warisan turun temurun, karena pengelola sekarang merupakan generasi ketiga.
Saya membeli 2 roti tanduk, 1 roti nenas dan 1 roti kepang, 1 roti pisang coklat dan 1 roti gula susu. Pertimbangannya sederhana saja, selain ingin mengulang menikmati roti tanduk, juga mencoba jenis roti lain yang dulu belum pernah saya coba.
Bagaimana rasanya? Masihkah seenak dulu?
Anehnya saya gagal memperoleh sensasi menikmati roti tanduk Priangan seperti dulu semasa masih kecil. Demikian juga saat mencicipi roti lainnya. Gak ada yang spesial, mungkin karena nostalgia hanyalah ilusi memori, atau mungkin juga seperti ucapan adik saya: “Rasa rotinya gak seperti dulu.”
Baca juga:
Maple Bakery (Bukan Roti Legend), beda Cokelat Couverture dan Compound
Cordon Bleu Bites, dan Tips Eksistensi Diri untuk Kaum Lolita












No comments