Cordon Bleu Bites, dan Tips Eksistensi Diri untuk Kaum Lolita

   
nyiomas.my.id
Cordon Bleu Bites, dan Tips Eksistensi Diri untuk Kaum Lolita

“Apa sih arti Lolita?” tanya saya ketika pertama kali membaca istilah ini. Pertanyaan saya segera dijawab Mbak Tanti Amelia bahwa “Lolita” artinya “lolos lima puluh tahun”

Lolos Lima Puluh Tahun, sebuah istilah positif yang sering digunakan sebagai sebutan untuk wanita yang sudah berhasil melewati atau menginjak usia 50 tahun
Jawaban yang membuat saya merenung. Iya ya, selama ini hidup saya seperti mayoritas perempuan lainnya. Lurus saja. Setelah lulus SMA, saya kuliah sambil kerja, ketika bertemu jodoh, saya menikah dan memiliki 4 anak.

Kemudian sibuk mengurus anak dan ayah mertua, sampai harus resign dari karir yang dirintis, mulai staff keuangan hingga mencapai chief accounting. Saking lempengnya, saya tidak menyadari usia sudah bertambah menjadi 40 tahun, kemudian 50 tahun atau lolita.
Apakah gak ada ombak kehidupan?

Tentu saja, malah gelombangnya sangat tinggi. Gelombang yang menghempaskan saya. Namun seperti tak puas, gelombang itu datang lagi, mengangkat saya tinggi-tinggi, untuk dihempaskan lagi. Demikian seterusnya.

Baca juga:
Air Murni, Cara Mudah Lindungi Keluarga agar Tetap Sehat dan Produktif

Resep Kaastengel, dan Tips Oleh-Oleh Anti Boncos

Muffin Keju Luvita Ho dan 6 Jenis Keju Populer di Indonesia

Daftar Isi:

  • Perjalanan Menuju Lolita
  • Krisis Eksistensi Diri dan Cara Mengatasinya
  • Resep Cordon Bleu Bites (Luvita Ho) 

Trouble makernya dua kakak ipar yang belum menikah sampai akhir hayat. Mungkin karena gak punya keluarga sendiri untuk direcoki. Keduanya berkonspirasi dengan ayahnya anak-anak untuk merundung saya.

Alhamdulillah Allah SWT menitipkan 4 anak yang saleh. Seperti falsafah Jawa “Cakra Manggilingan” atau roda yang berputar, saat berada di bawah saya merasa kesedihan yang amat sangat, dan sewaktu berputar ke atas, saya bahagia melihat anak-anak saya yang sehat dan menyelesaikan pendidikan akademisnya dengan lancar.

Setelah satu persatu anak-anak kuliah, bahkan anak kedua dan ketiga kuliah di luar kota, barulah saya merasa hampa. 

Dulu, belanja ke supermarket berarti troli penuh belanjaan. Catatan belanjaan sangat panjang meliputi beras, deterjen dan kebutuhan rumah tangga lain. Sekarang? Jangankan troli, terkadang barang yang dibeli cukup ditenteng sebelah tangan.

Dulu, Ramadan tiba disambut suka ria dengan memasak kolak atau es buah, kemudian menyiapkan meja makan lengkap dengan teh manis, susu, makanan pembuka dan lainnya. Sekarang? Cukup mengambil semangkuk asinan dari dalam lemari pendingin untuk dinikmati sendirian.

“Krisis eksistensi diri” mungkin merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi ketika tidak ada lagi anak yang mencari mamahnya. Merasa hampa karena tidak ada lagi sapaan: “Masak apa mah?” sampai minta bantuan tugas dari guru dan printilan lainnya. Hal-hal yang terkadang membuat saya ingin berteriak. Sekarang sepi. Mereka seperti tak butuh saya lagi.

nyiomas.my.id

Krisis Eksistensi Diri dan Cara Mengatasinya

Mungkin apa yang saya alami seperti yang digambarkan Fahruddin Faiz dalam “Ngaji Filsafat”nya tentang konsep eksistensi diri, yaitu proses “mengada”.

Eksistensi merupakan proses mengenali dan menegaskan keberadaan diri sendiri melalui tindakan, makna hidup, dan pengakuan di lingkungan sekitar. 
Beberapa teman mengatasi proses krisis eksistensi diri dengan mengikuti pengajian. Banyaknya majelis taklim dan masjid di Bandung yang mengadakan pengajian, memungkinkan mereka hampir setiap hari ke pengajian.

Aktivitas yang sulit saya lakukan, perjalanan Cinanjung-Bandung PP memakan waktu 4 jam, sementara pengajian hanya 1-2 jam, duh! Karena itu saya mencoba mengatasi krisis eksistensi diri dengan beberapa cara, antara lain:

Mempraktikkan konsep Mono no Aware

Mono no Aware merupakan konsep estetika tradisional Jepang yang bermakna "kesedihan atau kepekaan mendalam terhadap kefanaan" (ketidak kekalan segala sesuatu)

Di usia lolita kita mulai menyadari kepergian teman, tetangga, bahkan suami dan anak, seperti bunga sakura yang hanya bermekaran selama sekitar dua minggu dalam setahun, kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah fana.

Sekaligus optimisme untuk apa yang ada di depan dan rasa tenang karena semua yang terjadi merupakan keniscayaan. Hal yang sangat wajar.

Mempelajari ilmu baru

“Anak-anak sedang apa ya?” “Udah makan belum?” “Duh, cuaca kaya gini, gimana kesehatan anakku?” Pikiran-pikiran seperti itu sangat normal terjadi, dan biasanya kaum ibu bakal langsung menelpon anaknya, minimal mengirimkan pesan WhatsApp.

Buat seorang ibu mungkin itu merupakan perwujudan rasa sayang, namun bagi anak beda lagi. Anak seorang teman pernah mengeluh bahwa ibunya terlalu sering “merecoki”. Bisa 50 kali sehari sang ibu mengirim pesan atau menelepon.

Apakah teman saya tersebut kurang kerjaan? Bisa jadi. Terbiasa setiap hari mengurus anak, sekarang waktunya kosong, sehingga dia kebingungan dan mengalami krisis eksistensi diri.

Tak mau mengganggu kesibukan anak, saya memilih mempelajari ilmu baru, salah satunya belajar Ilustrasi Canva. Ini sangat berguna lho, minimal ketika ada teman yang memperingati (ulang tahun, hari besar keagamaan, anniversary, lulus sekolah atau apa pun) saya bisa mengirim ucapan selamat yang unik, gak sekadar kalimat yang mungkin merupakan copy paste dari teman lainnya.

Menekuni Hobi 

Sejak remaja saya suka banget cooking dan baking, sampai punya oven (tangkring) dan peralatan memasak lain di tempat kost.

Ketika sudah berkeluarga, aktivitas ini malah menjadi sekadar rutinitas. Walau punya ART, saya harus memasak dan mengurus anak sendirian, sehingga rasanya semua  terburu-buru. Menu masakan sesuai keinginan keluarga. Gak ada waktu untuk memasak sesuai keinginan, apalagi eksperimen masakan baru.

Kini, saya punya banyak waktu. Saya bebas mau masak apa pun, dan yang paling menyenangkan: Dunia digital memungkinkan para konten kreator berlomba-lomba membuat resep yang nampak lezat dan mudah.

Jadi gak pakai lama, sebagai Blogger Lolita saya membuat blog “Beranda Nyi Omas” ini untuk menulis hasil eksekusi resep makanan, juga hasil kulineran dan traveling tipis-tipis. 

Salah satunya menaklukan resep Chicken Cordon Bleu. Disebut menaklukan karena ada keju mozzarella didalam bungkusan smoked beef dan fillet daging ayam. 

Keju mozzarella ini akan meleleh ketika Chicken Cordon Bleu digoreng. Nah beberapa resep sudah saya ikuti, mulai resepnya Willgoz, Devina Hermawan hingga Luvita Ho. Hasilnya hampir selalu keju mozzarella bocor dari sela-sela bungkusan daging ayam dan smoked beef yang mirip guling itu.

Rasanya agak lega, sewaktu Luvita Ho bilang bahwa diperlukan jam terbang tinggi untuk membuat Chicken Cordon Bleu yang perfect. Luvita Ho mengaku berulangkali membuat, sebelum akhirnya berhasil dan membuat kontennya di YouTube.

Sambil tertawa. Luvita Ho juga berkisah keluarganya sampai bosan disuguhi menu Chicken Cordon Bleu yang gagal karena keju mozzarella-nya meleleh keluar.

Sempat membandingkan dengan Chicken Cordon Bleu buatan resto sih, salah satunya Solaria, dan saya mendapati mereka hanya menyisipkan potongan keju mozzarella ukuran kecil. Jadi pastinya gak mudah bocor ya?

 

nyiomas.my.id

Resep Cordon Bleu Bites (Luvita Ho)

 Beruntung kreativitas tiada tara membuat banyak orang menciptakan Cordon Bleu Bites, atau ukuran gigitan kecil (bites)  versi mudah yang beberapa waktu lalu dieksekusi Luvita Ho.

Mengapa ada versi mudah? Karena ada resep versi sulit dari Devina Hermawan. Seperti resep orisinalnya, Devina membuat Cordon Bleu Bites dari daging ayam yang diiris tipis.

Sementara Luvita menyincang daging ayam, baru kemudian membungkus keju mozzarella.

Hasilnya? Eureka! Sukses, gak bocor dan pastinya lezat banget.

Dengan bahan 500 gram daging ayam, Luvita berhasil membuat sekitar 16 buah, sedangkan saya membuat lebih kecil sehingga jadi 25 buah.  Jadi selain untuk camilan keluarga, bisa banget dijual dengan dilengkapi kentang goreng, saus sambal dan saus keju.

nyiomas.my.id

Resep Cordon Bleu Bites (Luvita Ho)

Bahan-bahan:

  • 500 gr dada ayam (potong-potong, gak harus ukuran tertentu)
  • ¾  sendok teh garam
  • ½ sendok teh kaldu bubuk
  • 1 sendok teh bawang putih bubuk
  • 1/8 sendok teh lada putih
  • 5 lembar smoked beef (iris kecil-kecil)
  • Keju quick melt atau bisa juga keju mozzarella 

Bahan pelapis basah:

  • 75 gr tepung terigu protein sedang
  • 1 butir telur
  • 100 ml air

Bahan pelapis kering:

  • Secukupnya tepung terigu protein sedang
  • Secukupnya tepung panir 

Cara membuat:

  1. Keju quick melt atau bisa juga keju mozzarella potong bentuk dadu. Ukuran keju akan menentukan besar kecilnya Cordon Bleu Bites.
  2. Ke dalam wadah chopper, masukkan potongan fillet ayam dan bumbu-bumbu ( garam, kaldu bubuk, bawang putih bubuk, lada putih), giling ayam hingga menjadi adonan yang solid.
  3. Campur adonan ayam dengan irisan smoked beef, aduk rata.
  4. Lumuri tangan dengan minyak goreng, dan buat bulatan Cordon Bleu Bites dengan potongan keju di dalamnya. Lakukan sampai adonan habis.
  5. Untuk memudahkan proses selanjutnya, simpan adonan di lemari pendingin kurang lebih 10-30 menit.
  6. Sambil menunggu, siapkan mangkuk untuk membuat pelapis basah. Campur  tepung terigu dan air sedikit demi sedikit sambil diaduk. Masukkan telur, aduk kembali hingga rata.
  7. Siapkan juga mangkuk berisi tepung terigu dan mangkuk berisi tepung panir/tepung roti.
  8. Keluarkan Cordon Bleu Bites dari dalam lemari pendingin, satu persatu balur dengan tepung terigu, kemudian celupkan ke pelapis basah, dan terakhir balurkan ke tepung panir.
  9. Goreng di minyak panas dengan api sedang kecil selama minimal 5 menit atau hingga matang
  10. Chicken cordon bleu bites siap disajikan dengan kentang goreng dan saus keju (resep menyusul ya?)

Baca juga: 

Resep Tahu Sumedang Isi Sayuran dan Sejarah Tahu Sumedang

Resep Banana Muffin Luvita Ho, dan Beda Muffin dengan Cupcake

No comments