Pesona Gunung Batu dan Berkibarnya Sang Saka Merah Putih

 
nyiomas.my.id

Pesona Gunung Batu dan Berkibarnya Sang Saka Merah Putih

Bagaimana rasanya melihat sang saka merah putih berkibar? Pastinya timbul rasa bangga. Sebagai anak bangsa yang merdeka, rasanya terharu melihat bendera pemersatu, dan tak sadar air mata merebak.

Apalagi jika bendera merah putih tersebut berkibar jauh nun di puncak gunung, seperti yang saya lihat. Untuk memperingati Hari Kemerdekaan, 17 Agustus, sejak awal bulan bendera merah putih sudah berkibar di puncak Gunung Batu dan baru diturunkan pada 31 Agustus.

Pengalaman se-emejing ini memang terasa mimpi. Padahal  dulu, awal pindah ke kawasan Cinanjung,  alih-alih hepi saya malah merasa tinggal di kawasan jin buang anak. Serba jauh. Serba sulit. Serasa terbuang dari peradaban modern. Biasanya cukup bermodalkan smartphone untuk apa pun, sekarang harus belanja memakai uang cash, sementara letak ATM sekitar 1-2 km dari tempat tinggal. 

Sesudah beradaptasi 2-3 tahun dan mulai rutin jalan kaki pagi, barulah saya menemukan ke-emejing-an itu. Hanya beberapa menit mengelilingi kompleks perumahan, nampak puncak gunung, lengkap dengan hamparan ladang, dan rumah bercat biru di ujung sana.

      

nyiomas.my.id

Pemandangan pun berubah-ubah, biru langit ketika udara cerah dengan awan putih berarak, seolah mereka sedang berjalan-jalan mengelilingi gunung dengan berbagai wujud dan corak.

Berganti wujud sewaktu halimun (kabut) turun. Tak kalah indahnya. Udara yang dihirup terasa segar. Sehingga saya refleks berulang kali menyesap dalam-dalam untuk memenuhi rongga dada.

Baca juga:
Wisata Tipis-tipis Kabupaten Bandung, Tempat Selebriti Ali Syakieb jadi Wakil Bupati

Jelajah Rasa Produk Kuliner UMKM di Bandung Kunafe, Pemkab Bandung

Daftar Isi:

  • Ada Puncak Gunung Batu di Belakang Rumah
  • Tentang Gunung Batu dan Wisata Seribu Tangganya
  • Wisata Seribu Tangga di Gunung Batu, Anak Kecil juga Bisa!
  • Cara menuju Wisata Seribu Tangga Gunung Batu 

Sebetulnya keindahan puncak Gunung Batu bisa dilihat dari lantai teratas rumah. Sayang, berhubung rumah anak saya terletak di kompleks perumahan, pemandangan tercemar oleh semrawut kabel, antena televisi serta bangunan rumah setengah jadi.

Walau demikian, saya masih belum tertarik untuk menaklukan Gunung Batu. Banyak sih pejalan kaki yang menyengaja ke sana. Mulai dari rombongan anak sekolah, kelompok ibu rumah tangga, hingga pasangan suami istri.

Penasaran baru muncul ketika berpapasan dengan tetangga, seorang kakek dan cucunya yang menyapa dan mengajak turut serta. Lansia naik gunung sih banyak kita temukan, salah satunya dosen saya yang kini usianya mendekati 80-an.

Tapi anak kecil? Oh, ada! Teh Okti, seorang teman blogger pernah memosting pengalamannya naik gunung bersama suami dan anaknya, jika gak salah kala itu Fahmi, nama sang anak, baru berusia 7 tahun.

Selebihnya, tentu saja teman-teman blogger yang masih muda dan enerjik seperti Trisuci, Travel Blogger Medan yang gemar melakukan Outdoor Activity. Mumpung masih muda sebaiknya memang puas-puasin, sebelum kawasan hutan di gunung berubah jadi hutan sawit. (Ups) 😀😀

 

nyiomas.my.id

Tentang Gunung Batu dan Wisata Seribu Tangganya

Keinginan menaklukan Gunung Batu baru mencapai klimaks ketika tanpa sengaja melihat “wisata seribu tangga” di Google Maps. Lho ini kan deket rumah?

Merasa penasaran, saya pun mulai searching tentang Gunung Batu, yang menurut warga lokal dinamakan demikian karena dulu merupakan penambangan batu.

Jadi gini, ada beberapa destinasi bernama “Gunung Batu” di kawasan Bandung Raya, diantaranya Gunung Batu yang terletak di kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Semula hanya berupa dataran rata, pergerakan Sesar Lembang menaikkan struktur batuan dari dalam bumi, hingga membentuk bukit atau gunung batu.

Serta Gunung Batu di Kampung Rancabawang, Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Gunung yang letaknya relative dekat dengan kompleks perumahan yang saya tinggali ini, merupakan bukit atau bagian kaki dari Gunung Bukitjarian.

Gunung Batu terbentuk secara alami sebagai bagian dari rangkaian perbukitan vulkanik. Akibat aktivitas tambang pasir dan batu tradisional di masa lalu, sebagian areanya berubah, sebelum akhirnya direhabilitasi dengan pembangunan anak tangga dengan tujuan destinasi wisata bernama “Wisata Seribu Tangga Gunung Batu”, pada tahun 2010.

Buat para newbie mendaki gunung,  bisa banget mulai dengan Gunung Batu di kawasan lembang yang memiliki ketinggian sekitar 1228 mdpl. Atau bisa juga memilih Gunung Batu di kawasan Cinanjung Tanjungsari yang memiliki puncak setinggi sekitar 1.173 meter di atas permukaan laut.

nyiomas.my.id

Oiya, sejak 2017 Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi mulai mengelola dan memanfaatkan kawasan Gunung Batu, Gunung Bukitjarian dan Gunung Geulis di Sumedang sebagai bagian dari Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Pendidikan ITB melalui SK. 663 MenLHK tahun 2017.

Bisa dipahami karena Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB (khususnya Prodi Rekayasa Kehutanan) membutuhkannya untuk kegiatan praktikum lapangan, penelitian biodiversitas, konservasi, hingga kampus lapangan internasional.

Sehingga tidak hanya untuk wisata, Gunung Batu ternyata sangat bermanfaat sebagai  laboratorium alam dan hutan pendidikan.

nyiomas.my.id

Wisata Seribu Tangga di Gunung Batu, Anak Kecil juga Bisa

Jadilah, saya memutuskan  “mendaki” ke Gunung Batu. Kata “mendaki” saya beri tanda petik karena lokasi rumah sudah berada di ketinggian. Ini terlihat dalam perjalanan pulang dari Jatinangor menuju Cinanjung,  kendaraan yang saya tumpangi melalui jalan menanjak, terlebih memasuki kawasan perumahan.

Sehingga walau tercatat Gunung Batu di kawasan Cinanjung Tanjungsari punya ketinggian 1.173 mdpl, kompleks perumahan yang saya huni terletak sekitar 880 hingga 900 mdpl.  Tersisa pendakian sekitar 300 mdpl. Rasanya gimana gitu. Judulnya mendaki gunung, tapi kok? 😉😉

Saya memilih hari biasa untuk menghindari keramaian. Saya juga tidak mengenakan pakaian dan peralatan khusus. Pertimbangannya, jika dirasa gak mampu atau merasa capek, ya pulang aja. Toh lokasinya dekat rumah.

Sombong banget ya? 😀😀

Pertimbangan lainnya, saat saya ngebolang ini musim hujan tahun 2024, saya kawatir jalan menuju Gunung Batu akan becek dan licin. Tetap saya tulis karena gak ada perubahan signifikan di kawasan Gunung Batu. 

Sesudah memantapkan hati, saya memulai jalan kaki di pagi hari. Rutenya aja yang beda. Biasanya jalan kaki pagi memutari kompleks perumahan, kali ini langsung menuju lokasi Wisata Seribu Tangga Gunung Batu yang ternyata emang gak jauh dari rumah.

Sepanjang perjalanan terlihat hijau royo-royo yang memanjakan mata, seperti pohon kemiri, pohon jati, pohon waru, dan entah pohon apa lagi. Saya perhatikan pohon kemiri dan pohon jambu batu banyak ditemukan di kawasan ini, mungkin pelakunya adalah kelelawar, atau tupai yang gemar menggerogoti buah dan membuang bijinya yang keras.

Namun yang khas adalah keberadaan ladang di kanan dan kiri jalan, seolah  menjadi pembatas antara kawasan pertanian dan hutan. Mayoritas petani menanam ubi Cilembu (dinamakan ubi Cilembu karena bibitnya sama dengan ubi yang ditanam oleh petani Desa Cilembu), jagung, serta pastinya singkong.

nyiomas.my.id

 

Setelah melewati ladang, jalan setapak dipenuhi tumbuhan liar di kanan dan kiri, beberapa diantaranya berbunga. Indah banget. Tak lama kemudian terlihat area yang nampaknya dibangun untuk tempat parkir. Kosong. Mungkin karena bukan hari Minggu/hari libur ya?

nyiomas.my.id
 

Gapura menjulang menunjukkan bahwa saya sudah memasuki destinasi yang dituju. Dulu, sekitar tahun 2010 pemda Sumedang sempat mengomersialkan Wisata Seribu Tangga Gunung Batu. Apes, gagal. Destinasi wisata ini sepi pengunjung, dan kembali ramai sesudah free ticket.

Termasuk sewaktu saya memasuki kawasan yang nampaknya ditata untuk pedagang. Lapak-lapak tersebut kosong, menunggu pengunjung datang di hari libur.

Walau weekday, pengunjung tetap berdatangan. Seorang perempuan muda dengan menggunakan celana legging dan kaos dry-fit, setengah berlari melewati saya, dan mulai menaiki anak tangga. Sekelompok remaja pria bersenda gurau sebelum akhirnya juga menapaki anak tangga.

Bagaimana dengan saya? 

Sesudah mengambil beberapa foto, saya berjalan sampai pos pertama, kemudian balik badan dan pulang, hehehe …. Seperti sudah saya tulis di atas, hujan semalam meninggalkan genangan air dan jalan becek serta licin.

nyiomas.my.id

Takutnya sesudah sampai di puncak Gunung Batu, saya kesulitan turun gunung. Naik gunung sih paling cape dan napas ngos-ngosan, tapi perjalanan turun gunung  berisiko cedera, sementara saya cuma sendirian.

Rencananya saya akan ke sini lagi di musim kemarau, atau jika ada teman. Sayang, rencana tinggal rencana. Belum terwujud hingga kini. Saya tulis aja dulu, insyaallah andai saya berhasil mencapai puncak Gunung Batu, akan saya posting lagi.

nyiomas.my.id
\

Cara menuju Wisata Seribu Tangga Gunung Batu

Bagaimana? Pingin mencoba “mendaki” Gunung Batu ala saya? Tentunya bisa dilanjut hingga menuju puncak, bahkan berkemah untuk menikmati keindahan sunrise atau sunset yang tak terlupakan.

Pertama kali wajib ke Kota Bandung dulu dong ya? Setelah itu cek lokasi dengan memasukkan kata kunci “wisata tangga seribu Gunung Batu Tanjungsari” pada Google Maps.

Untuk menuju lokasi, kita bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Khusus mobil, saya belum bisa menyarankan karena belum tahu keamanannya. Sementara sepeda motor, tersedia tempat parkir dan penjaganya. 

Yang paling asyik menurut saya sih menggunakan angkutan umum. Dari Kota Bandung, tujuan awal adalah pangkalan bus yang terletak di kawasan kampus Universitas Pajajaran (Unpad).

Ada Bus DAMRI (dibawah Perum DAMRI) jurusan Elang-Jatinangor, serta bus Metro Jabar Trans (BRT Provinsi Jabar) Unpad jalan Dipati Ukur Bandung-Unpad jatinangor.

Apabila sudah sampai Jatinangor, perjalanan menjadi lebih mudah. Banyak layanan ojol yang bisa mengantar ke lokasi terdekat yaitu kantor Desa Cinanjung untuk memulai petualangan mendaki menuju Gunung Batu dengan menapaki tangga yang entah mengapa dijuluki “seribu anak tangga”.

Benarkah jumlah anak tangganya mencapai seribu buah? Tak ada pendaki yang bisa memastikan karena tidak pernah ada yang menghitung dan menemukan angka yang pasti.

Baca juga:

Masjid Agung Sukabumi dan Cara Mengenang Sebuah Kota

Gak Nyangka! Sukabumi jadi Kantor Pegadaian Pertama di Indonesia




No comments