Gak Nyangka! Sukabumi jadi Kantor Pegadaian Pertama di Indonesia

   
nyiomas.my.id
 Gak Nyangka! Sukabumi jadi Kantor Pegadaian Pertama di Indonesia

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “pegadaian”? Emas? Ya, mungkin. Paling tidak, itulah topik obrolan di WhatsApp Group yang sempat ramai ketika harga emas melonjak naik. Beberapa teman blogger sempat mendapat job dari lembaga keuangan bukan bank ini, dan menabung emas di sana.

Ingatan akan obrolan harga emas di pegadaian muncul ketika sedang searching destinasi wisata di Sukabumi. Ya sekalian nyekar ke makam keluarga, harus bawa oleh-oleh tulisan dong ya?

Pilihannya antara tulisan tentang batik Sukabumi dan museum Tionghoa Sukabumi. Letak keduanya dekat dengan rumah almarhum adik saya yang tinggal di pusat kota Sukabumi, maklum kota ini kecil saja, jadi banyak destinasi yang letaknya berdekatan.

Munculnya lokasi Museum Pegadaian yang ternyata juga tak jauh dari rumah, menarik minat saya. Khususnya karena ada penjelasan “Museum Pegadaian Pertama dan Satu-satunya di Indonesia”

Wah harus kesini atuh!

Baca juga:
Pengalaman Naik Metro Jabar Trans, Moda Transportasi Murah dan Nyaman di Bandung Raya

Wisata Tipis-tipis Kabupaten Bandung, Tempat Selebriti Ali Syakieb jadi Wakil Bupati

Daftar Isi:

  • Tertampar, Sebagai Orang Sukabumi yang Kudet
  • Mengapa Sukabumi jadi Kantor Pegadaian Pertama di Indonesia?
  • Menengok Praktik Pegadaian Tempo Doeloe
  • Mampir ke the Gade Corner, Coffee & Gold

Sebetulnya ngerasa tertampar sih. Sebagai “orang Sukabumi” dengan profesi  blogger dan banyak menulis book review, saya kok gak tau tentang keberadaan Museum Pegadaian ini, serta museum-museum lainnya di Sukabumi seperti; Museum Prabu Siliwangi, Museum Ki Paharé, Museum Megalodon, dan Museum Palagan Bojongkokosan.

Kemana aja saya selama ini ya? 

Jadi wajib banget bikin rencana traveling khusus ke Sukabumi, untuk mengunjungi museum, termasuk incaran saya sebelumnya: Batik Sukabumi!

Kali ini cukuplah berkunjung ke Museum Pegadaian saja. Entah mengapa, di hari kedua saya di Sukabumi, tiba-tiba terserang flu berat dan berakhir dengan kekambuhan epilepsy. Padahal sudah 10 tahun berselang, saya gak pernah mengalami, bahkan dokter sudah berencana mengurangi dosis obat.

Jadi, walau kondisi kurang sehat, saya searching alamat Museum Pegadaian yang agak membingungkan. Aplikasi di kedua ojek online agak berbeda, namun ada kesamaan, yaitu berada di Jalan Pelabuhan, Kelurahan Tipar, Kecamatan Citamiang, 

Tapi okelah, seperti telah saya tulis di atas, Kota Sukabumi tuh kecil, wilayahnya hanya sekitar 48 km², hampir sama dengan Kota Cimahi (42 km²).  Gak mungkin deh, nyasar di kota ini.

nyiomas.my.id

Mengapa Sukabumi jadi Kantor Pegadaian Pertama di Indonesia?

Pertanyaan itu muncul ketika membaca bahwa kantor pegadaian pertama didirikan di Kota Sukabumi. 

Sayang, 3 orang educator yang duduk di depan Museum Pegadaian tidak bisa menjawab pertanyaan saya secara tuntas, sehingga saya berusaha mencari jawabannya.

Hasilnya kurang lebih begini:

Sebetulnya pemberian kredit dengan system gadai telah dilakukan Bank Van Leening yang didirikan pada tanggal 20 agustus 1746 di Batavia. Kata “gadai” dalam Bahasa Belanda adalah “pand”, sehingga rumah gadai disebut dengan “Pandhuis”.

Pada tahun 1811, Bank Van Leening dibubarkan oleh Pemerintah Inggris. Mereka tidak menyetujui sistem usaha pegadaian dimonopoli pemerintah.

Pemberian keleluasaan kepada masyarakat ternyata justru berdampak buruk. Praktik lintah darat meraja lela. Tanpa pengawasan resmi, para rentenir kerap menetapkan suku bunga harian atau mingguan yang tidak masuk akal.

Terlebih di kawasan perkebunan seperti di Sukabumi. Di sini perputaran ekonomi sangat tinggi. Rentenir mengiming-imingi pinjaman pada tenaga kerja perkebunan dengan cicilan yang nampak mudah dan ringan. Akibatnya mereka terjerat tanpa menyadari utang pokok tidak kunjung lunas karena pembayaran nasabah habis untuk menutupi bunga berlipat ganda.

Untuk menghapus praktik lintah darat, dan agar masyarakat bisa mengakses pinjaman yang adil, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan usaha gadai pada tanggal 1 April 1901, di Sukabumi, Jawa Barat, dengan dasar peraturan Staatsblad No. 131 yang menyatakan bahwa segala bentuk praktik gadai harus dikuasai dan diregulasi langsung oleh negara.

nyiomas.my.id
buku penyelidikan kasus, terakhir digunakan tahun 1933

Menengok Praktik Pegadaian Tempo Doeloe

Vibes kantor era kolonial segera terasa, ketika saya menjejakkan kaki di pelataran Museum Pegadaian. Kebetulan saya lahir dan besar di rumah bekas wong Londo, sehingga familier dengan atap dan pintu-pintu kayu yang menjulang tinggi.

nyiomas.my.id

Baik pintu maupun jendela dibuat rangkap 2, ada pula yang rangkap 3. Pintu terluar terbuat dari kayu jati tebal dengan deretan kayu melintang (sering disebut jalusi atau kisi-kisi), sebagai strategi adaptasi iklim tropis. Selain berfungsi sebagai ventilasi udara silang agar ruangan tetap sejuk, pintu dengan desain ini mencegah tampias air hujan masuk.

Jendela kedua (biasanya menghadap keluar rumah) berukuran setengahnya, agar penghuni bisa bertatap muka dengan tamu tanpa harus membuka seluruh jendela. 

Jendela/pintu ketiga terbuat dari kaca berguna untuk menerangi ruangan dengan cahaya alami matahari saat pintu ditutup, menjaga suhu tetap stabil, dan mencegah masuknya debu atau serangga.

Lantai berupa hamparan tegel kunci (tegel semen bermotif) yang berwarna hijau keabuan melengkapi bangunan bergaya Indis ini. Di mulai dari teras tempat 3 educator yang duduk dan minta pengunjung menulis daftar hadir.

Perubahan zaman yang sesungguhnya baru terasa ketika memasuki ruang pertama Museum Pegadaian. Sapaan “selamat datang” sepasang muda mudi berbaju adat berasal dari video sebuah single digital signage, seolah mengingatkan bahwa kini era digital, bukan masa mesin ketik jadul.

Saya menduga, dulu ruang pertama merupakan tempat petugas menerima nasabah yang hendak menggadaikan/menebus hartanya. Sekarang dipenuhi penjelasan tentang sejarah usaha gadai internasional, masa VOC, masa pendudukan Jepang hingga akhirnya pendirian lembaga pegadaian pertama di Sukabumi pada tanggal 1 April 1901, momentum yang kemudian diperingati sebagai hari ulang tahun PT Pegadaian (Persero)

nyiomas.my.id

Wajah dan nama Direktur Utama PT Pegadaian (dulu Perusahaan Jawatan) dari masa ke masa juga hadir di ruang pertama.

nyiomas.my.id

Proses transaksi pegadaian di zaman baheula baru terlihat di ruangan berikutnya, nampak deretan barang yang kerap dijadikan agunan, mulai dari batik tulis, dandang (kukusan/steamer) tembaga hingga piring beling bermotif bunga.

Batik tulis sih kita paham ya? Sampai sekarang harganya mahal, bisa jutaan rupiah, bahkan ratusan juta rupiah, tapi piring beling? Mungkin karena dulu harganya sangat tinggi, hanya golongan tertentu yang memilikinya sehingga  dianggap sebagai barang berharga dan bernilai prestise.

nyiomas.my.id

Display berupa batu uji (alat penguji kemurnian emas), meetmies (alat pengukur besar kecilnya berlian), jarum uji emas/berlian (alat untuk menaksir kadar emas/berlian), loop senter (alat untuk memeriksa kualitas berlian) dan masih banyak lagi, membuat  kita serasa terlempar di awal abad 20, ketika banyak proses masih dilakukan secara manual. 

nyiomas.my.id
"kalkulator" 😀😀

Demikian pula proses pencatatan, Museum Pegadaian merekam era ketika komputerisasi, terlebih layar touchscreen, masih sebatas angan. 

nyiomas.my.id

Terlihat dari keberadaan mesin ketik, kertas kwitansi berwarna kekuningan, buku catatan, dan masih banyak lagi.

 

nyiomas.my.id

Redeem stamp (cap tebus untuk menandai barang agunan telah dibayar/dilunasi 

 

nyiomas.my.id

serta bende lelang (alat yang digunakan sebagai sarana informasi kepada khalayak sebagai tanda akan dilaksanakannya proses lelang di pegadaian), memperkuat imajinasi pengunjung tentang proses gadai di era itu.

nyiomas.my.id

Mampir ke the Gade Corner, Coffee & Gold

Serasa dibangunkan dari imajinasi suasana kantor pegadaian tempo dulu, ketika kaki beranjak keluar dari beranda, dan tampaklah café kekinian di sisi kiri bangunan Museum Pegadaian.

Mungkin saya terlalu focus sehingga kurang memperhatikan keberadaan the Gade Corner, Coffee & Gold, juga kantor pegadaian di sisi kanan, tempat lembaga keuangan resmi BUMN ini melayani pinjaman dengan jaminan barang, investasi, dan jasa keuangan.

nyiomas.my.id
Tring! Aplikasi PT Pegadaian

Emang sih pegadaian dan investasi emas terkesan “kuno” dan hanya diminati boomers, karena itu PT Pegadaian melakukan berbagai strategi branding inovatif, diantaranya dengan menyediakan tempat anak muda bisa nongkrong dan melakukan tugas atau bekerja (Work From Cafe).

Pendekatan terlihat dari tembok yang dipenuhi poster berisi kalimat gaul dan aesthetic, seperti tulisan:  “ GAS … jemput ayang pakai motor baru” di atas gambar pemuda yang mengendarai scooter, dan di bawahnya tertulis: WUJUDKAN IMPIAN MEMILIKI KENDARAAN dengan pembiayaan amanah.

Tak lupa tercantum slogan PT Pegadaian di area paling bawah dengan huruf lebih kecil: "Mengatasi Masalah Tanpa Masalah"

Poster-poster lainnya tak kalah menarik,  berisi penjelasan barang yang bisa dijadikan jaminan, seperti: handphone (berbagai jenis) bisa digadai, Pegadaian menerima gadai barang elektronik, sepeda bisa digadai, perhiasan (diantaranya cincin kawin) bisa digadai dan masih banyak lagi.

Selebihnya mirip café lainnya yang berisi meja kayu (bulat dan persegi) dengan 4 kursi, serta colokan dan akses wifi untuk kenyamanan pengunjung yang ingin melakukan WPC.
Bagaimana dengan menunya? 

Cukup lengkap dan harga sangat terjangkau, termasuk main course dengan signature food, yaitu: Mie Goreng Gade, Mie Rebus Gade, Nasi Goreng Gade, Nasi Goreng Ikan Teri.
Semuanya dengan kisaran harga 20K-33K saja, juga ada pilihan makanan berat kekinian lainnya: Nasi Beef Saus Teriyaki, Nasi Ayam Katsu Saus Mentai, Nasi Ayam Katsu Saus Mushroom. Nasi Ayam Sweet and Sour, Nasi Ayam Saus Teriyaki

Pingin makanan ringan aja? 

Tersedia litebites dengan harga18 K-30K, mulai dari camilan kekinian seperti: chicken karage, chicken wings, french fries, odading cheese, odading choco, rujak cireng, pisang goreng cokelat keju, pisang goreng gula jawa, hingga camilan jadul yaitu: singkong rebus pandan, singkong goreng keju, tahu bakso semarang, tahu walik salatiga, dan tempe mendoan

Minuman refreshing series (28 K) sempat membuat saya hendak memesan, yaitu: Apple Sunway (apple juice, squash lemon, soda water), Black Orange (coffee, orange juice, soda water), Black Lemon (coffee, honey, lemon juice, soda water), Pinksmoo Latte (strawberry chunk with milk).

Namun tersadar sedang batuk berat, jadi harus pilih minuman lain. Ada sih minuman serba susu dengan kisaran harga 20K-25K, yaitu: susu gula aren, susu coklat Gade, susu merah muda Gade, susu matcha Gade, susu taro Gade

Tapi melihat judulnya: Sweets, langsung urung deh, karena tenggorokan jadi terasa gatal, ada sih pilihan tea base seharga 22 K, yaitu: teh lychee Gade (lychee with signature black tea), teh lemon sereh (lemon, sereh with signature black tea), teh tarik Gade (condensed milk with signature black tea)

Serta tentu saja coffee based dengan kisaran 20 K-25 K, seperti: kopi susu Gade (Van Leening) signature  kopi susu gula aren, kopi susu matcha, mochaccino, cappuccino, café late, kopi hitam Gade, dan masih banyak lagi.

Dan pastinya manual brew seharga 20 K, yaitu Filter V60 dan kopi tubruk.

nyiomas.my.id

Pandangan saya terhenti pada menu wedhang (18 K). Nah pas banget nih buat saya yang tubuhnya masih setengah meriang, tapi pingin ngebolang, jadi dari 3 pilihan:
Wedang jahe (jahe putih, daun sereh dan madu), wedang jahe limun (jahe putih, daun sereh dan limun, wedhang sarabak (jahe merah, susu dan kayu manis), saya memilih wedhang sarabak.

Bayarnya pake QRIS. 

Kenapa penting banget ditulis? Karena beberapa kali belanja, kasir mensyaratkan jumlah pembelian tertentu agar bisa diproses. Di sini sih enggak ada batasan tersebut.

Ngerasa cukup melihat suasana indoor, saya mencoba menikmati wedhang sarabak di bawah gazebo,  sambil mengamati ikan yang sedang wara wiri di dalam kolam.

nyiomas.my.id

Bagaimana rasa wedhang sarabak? Terlalu manis, untuk saya. Tenggorokan langsung terasa gatal, dan tubuh semakin gak nyaman. Jadi daripada bertambah parah, saya batal memesan main course (semula pingin banget nyobain Mie Rebus Gade) dan litebites (saya ngincer tahu bakso semarang).

Nanti saja di The Gade Corner Coffee and Gold Bandung, saya penasaran dengan keberadaannya di BRI Tower Jalan Asia Afrika, Bandung. 

Yuk, siapa yang mau ikut?

Baca juga:
Sekelumit Kisah Tentang Rinjani, Pendaki Gunung dan Kematian Juliana Marins

Mengintip Malam di Hotel Aryaduta Bandung

Profile 
The Gade Corner Coffee and Gold Sukabumi
Alamat: Jl. Pelabuhan No.77, Tipar, Kec. Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat 43131
Informasi dan reservasi : 081119695000
Jam (Senin-Jumat; Minggu Tutup) pukul 08.00-pukul 22.00 
Tarif per orang: Rp 25.000–50.000


No comments