Blusukan di Kota Jogja Bertemu Cabai Jawa, Rempah dari Era Gajah Mada
Jogja emang sesuatu ya? Kecuali kisah penjual makanan yang suka ‘nuthuk rego” (mematok harga jauh di atas harga normal, biasanya menyasar wisatawan atau pendatang), mereka yang pernah ke Kota Jogja biasanya pingin berkunjung lagi.
Penyebabnya mungkin daya tarik kreativitas di antara kelindan adat istiadat Jawa yang kental dan budaya kekinian, seperti layanan jasa berfoto dengan busana adat Jawa (surjan untuk pria dan kebaya untuk wanita) dengan harga terjangkau di sekitar kawasan wisata seperti Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Kotagede.
Atau sekadar selfie welfie di pojok tertentu Malioboro yang nampaknya sengaja dibuat instagramable, serta jalan santai/duduk-duduk di kawasan pedestrian yang dibuat nyaman dan dipercantik dengan rangkaian bollard yang terbuat dari cor-coran beton dan dicetak dengan corak seperti batu marmer.
Pernah ada konten netizen yang membandingkan Malioboro saat emperan toko dan trotoar masih kumuh dipenuhi Pedagang Kaki Lima (PKL), atau kini, tepatnya sejak Februari 2022 Sri Sultan Hamengku Buwono X memindahkan lebih dari 1.800 PKL ke fasilitas resmi yang disediakan pemerintah, yaitu Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2.
Pastinya saya pilih Malioboro sekarang dong, apalagi setelah tahu bahwa relokasi PKL dilakukan untuk mendukung kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta sebagai warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO.
Apa itu?
Baca juga:
Semalam di Salatiga, Kota Tua nan Romantis
Belanja, Belajar, Berbagi Cerita di 181 Artisan Market
Daftar Isi
- Wisatawan Wajib Tahu: Sumbu Filosofi Yogyakarta
- Pelosok Kota Jogja yang Genit dan Selalu Bebenah
- Menyusuri Kampung Kota Jogja yang Hijau dan Guyub
- Berkenalan dengan Cabe Jawa, Rempah era Majapahit
Nah, saya juga baru mendapat penjelasan dari seorang sepupu yang telah puluhan tahun menjadi orang Jogja (tepatnya sejak lahir dia tinggal di rumah eyang kami di Jogja).
Jadi pada abad ke-18, Sri Sultan Hamengku Buwono I telah merancang konsep tata ruang berupa sumbu imajiner sepanjang kurang lebih 6 kilometer yang ditarik lurus dari arah selatan ke utara.
Sumbu imajiner yang kerap disebut sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta ini melambangkan keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama (Sangkan Paraning Dumadi, Hamemayu Hayuning Bawono, dan Manunggaling Kawulo)
Garisnya menghubungkan tiga landmark utama di Kota Yogyakarta, yaitu:
- Panggung Krapyak di bagian selatan (melambangkan awal kehidupan/kelahiran manusia)
- Keraton Yogyakarta di bagian tengah (melambangkan kehidupan manusia saat dewasa dan pusat pemerintahan)
- Tugu Pal Putih / Tugu Golong Gilig di bagian utara (melambangkan akhir kehidupan atau kembalinya manusia kepada Sang Pencipta).
Setelah pengajuan ke UNESCO dan melalui perjalanan panjang, akhirnya Sumbu Filosofi Yogyakarta ditetapkan dengan judul The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks pada 18 September 2023.
UNESCO mengakui sebagai Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) karena mencerminkan nilai-nilai filosofis yang tinggi dalam penataan ruang tradisional serta adanya pertukaran gagasan sistem kepercayaan (animisme, Hindu, Buddha, hingga Islam Sufi).
Jadi, bukan tanpa alasan banyak wisatawan (domestik dan luar negeri) terpikat dan betah berlama-lama di Kota Jogja ya? Apalagi untuk seorang travel blogger, bakal banyak hal yang bisa diposting ke dalam blognya.
Pelosok Kota Jogja yang Genit dan Selalu Bebenah
Mungkin ada yang heran, kok saya selalu menulis “Kota Jogja”? Jawabannya, karena Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota, yaitu Kota Yogyakarta (sebagai ibu kota provinsi), Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulon Progo.
Sebagai contoh kampus pusat Universitas Gadjah Mada (UGM), walau tertulis Yogyakarta namun terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sedangkan penggunaan kata “Jogja” dibanding Yogyakarta, lebih dipengaruhi faktor sejarah ejaan, kemudahan pelafalan, kebiasaan popular, serta kepraktisan dan kenyamanan lidah.
Bandingkan jika harus memakai nama resmi Jogja, yaitu: Ngayogyakarta Hadiningrat! Walah bakal pabaluit. 😀😀
Kembali ke judul: “Blusukan di Kota Jogja”, jadinya pasti paham yang dimaksud adalah pusat kota di sekitar sumbu imajiner yang dirancang Sri Sultan Hamengku Buwono I, suatu kawasan padat penduduk.
Kepadatan penduduk kota Jogja termasuk 3 besar kota paling padat di Indonesia. Penduduk kota sebanyak 465,04 ribu jiwa menempati 32,50 – 32,81 km² (Jogja juga merupakan salah satu kota administratif terkecil).
Gak heran, sewaktu blusukan menyusuri jalan di perkampungan Kota Jogja, saya menemukan banyak keluarga yang hanya tinggal di rumah satu kamar, berisi kasur atau tempat istirahat. Peralatan memasak dan mencuci berada di luar bangunan.
Namun hal tersebut tak mengurangi geliat warga untuk mempercantik kampungnya. Bahkan saya kepincut masuk dan menyusuri kampung karena tertarik pada pergola dengan tanaman rambat dan jejeran pot tanaman hias.
Penghijauan ini ternyata sangat bermanfaat. Walau kawasan padat penduduk, saya tidak mencium bau tak sedap. Karena seperti kita ketahui tanaman dan pepohonan berfungsi sebagai filter alami yang mampu menyerap berbagai gas penyebab bau atau polusi udara.
.png)
Tempat sampah botol (anorganik) tersedia di pojok-pojok kota
Saya juga tidak menemukan tumpukan sampah yang biasanya memenuhi kampung/kawasan padat penduduk. Kota Jogja rupanya berhasil dalam mengelola sampah, terlihat dari pemilahan sampah yang dilakukan warga dengan tertib.
Beberapa kali saya mampir ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), di Jogja dinamakan Depo Sampah, Pringgokusuman yang menampung sampah dari penghuni rumah di kelurahan tempat saya tinggal, dan membandingkannya dengan Kota Bandung.
Terakhir saya melihat TPS Jalan Tamansari Kota Bandung. Deretan gerobak sampah mengular hingga area Kampus ITB Jalan Ganesha Bandung. Setiap gerobak berisi sampah dalam plastik-plastik hitam yang “ditata rapi” hingga menggunung.

Ketahuan buang sampah sembarangan? Sidang adat menunggu
Beda banget dengan Depo Sampah Pringgokusuman. Tak nampak sampah di luar bangunan, kecuali saat pengangkutan sampah organik oleh DLH Kota Jogja. Pemilahan sampah dari rumah sangat membantu para pekerjanya.
Kita bahas tentang pengelolaan sampah di tulisan berikutnya, ya?
Menyusuri Kampung Kota Jogja yang Hijau dan Guyub
Tinggal sendirian di Kota Bandung sambil menunggu anak saya dan keluarga kecilnya menuntaskan tugas belajar di London, UK, rasanya kok gak nyaman banget. Terlebih sebagai penderita osteoarthritis saya harus menjalani terapi di rumah sakit.
Jadi deh saya memilih tinggal sementara di rumah peninggalan almarhum eyang di Kota Jogja. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari Malioboro Jogja, sehingga rutinitas jalan kaki pagi saya hanya sekitar jalan-jalan sekitar Malioboro yang ditetapkan sebagai kawasan wisata Sosromeduran.
Awalnya menyenangkan sih, walaupun kesel dengan banyaknya tukang becak yang menawarkan jasa: “Mbecak buk, sepuluh ribu saja.” Sampai akhirnya bosan dan melihat pergola dengan tanaman merambat pada beberapa gang (jalan-jalan kecil di dalam kota).
Masuk dong saya ke sana. Pertimbangannya, kawasan di sekitar Malioboro ini berbentuk blok. Setiap gang menghubungkan jalan besar yang satu dengan yang lainnya.
Seperti gang kampung turis di Jalan Sosrowijayan menghubungkan Kampung Wisata Sosromeduran dengan Slasar Malioboro, Jalan Pasar Kembang.
Btw Slasar Malioboro ini milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang punya cita-cita mulia menata kawasan sekitar Stasiun Yogyakarta (Stasiun Tugu) menjadi ruang publik yang nyaman dan pusat pemberdayaan UMKM lokal.

penjual makanan menangkap peluang
Gang lainnya memasuki kawasan yang diproklamirkan warganya sebagai Kampung Kemetiran Kidul karena menghubungkan jalan Kemetiran Kidul dengan Jalan Bhayangkara, pusat bakpia Pathuk dan Bakpia Juwara Satoe.
Jangan heran apabila melihat ada yang menulis “Kumetiran”. Kemetiran berasal dari kata "Kumitir", yang merujuk pada para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta yang dahulu bertugas mengantarkan surat (kitir).
Gang favorit saya berikutnya adalah penghubung Jalan Jlagran Lor (terusan Jalan Pasar Kembang) dengan Jalan Pringgokusuman. Dari luar nampak pergola yang dipenuhi tanaman hias merambat serta deretan pot tanaman hias, ternyata sesudah lorong yang lumayan panjang saya bertemu perumahan padat penduduk, tanpa sekat, bahkan aktivitas memasak dilakukan di luar rumah.
.jpg)
selalu ada tempat untuk duduk dan mengistirahatkan kaki
Herannya, walau kawasan padat penduduk, namun selalu tersedia tempat untuk duduk santai, baik di depan rumah maupun bangunan khusus seluas kurang lebih 2 x 3 meter.
Penyebabnya kebiasaan masyarakat Jogja yang suka nongkrong/jagongan, kebiasaan yang memunculkan warung angkringan, tempat warga bisa berkumpul dan mengobrol sambil minum teh legitel dan melahap nasi kucing/jajan pasar.
Berkenalan dengan Cabe Jawa, Rempah era Majapahit
Untuk semua kenyamanan itu, saya harus angkat jempol pada Pemkot Jogja. Pembangunan pergola jelas merupakan prestasi penyelenggara urusan pemerintahan daerah ini, karena semua pergola berbentuk dan berwarna sama, yaitu: Hijau!
Paving block yang berukuran dan berwarna sama juga menjadi kebijakan Pemkot Jogja, sedangkan pemasangannya (termasuk pergola ) dilakukan secara padat karya.
![]() |
| urban farming |
Yang terbaru, Pemkot Jogja membagikan benih sayuran, polybag dan medianya, jadi jangan heran kala melihat jalan-jalan perkampungan dipenuhi tanaman sawi, terung, tomat, dan cabai (yang ini mah inisiatif warga 😀😀)
Tanaman lain yang merupakah inisiatif warga adalah cabai jawa (Piper retrofractum Vahl). Sekilas mirip tanaman hias di pergola, tanaman cabai jawa tumbuh rimbun dengan asyiknya sambil merambat di tembok. (Beberapa waktu kemudian saya melihat ada yang menanam di pot).
Hingga saya melihat buahnya dan teringat pada konten seorang pemengaruh yang membahas tentang tanaman rempah asli Indonesia ini, bahkan sudah digunakan sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Saya mencoba rasanya, tidak ada rasa pedas yang meledak di lidah seperti cabai rawit/cabai merah yang kita kenal. Hanya sedikit pahit, getir dan rasa hangat yang lembut.
Mungkin ini yang bikin cabai jawa kalah pamor dibanding cabai modern yang bisa segera memberikan rasa pedas. Selain pastinya pembudidayaan cabe jawa yang lebih lambat dibanding cabai modern.
Ingin mencoba menanam cabe Jawa? Ternyata mudah, bisa dengan biji (generative) yang pastinya lebih lama, atau jalur cepat yaitu cara vegetative (stek) dengan memotong sulur panjang dari tanaman induk yang sehat dan produktif.
Baca juga:
Pesona Gunung Batu dan Berkibarnya Sang Saka Merah Putih
Ke Waduk Cengklik, Menikmati Indahnya Sunset Sambil Menyantap Soto Seger





.png)


No comments