Mie Bakso khas Jogja, Comfort Food yang Gurih, Lezat dan Nagih

 
nyiomas.my.id

Mie Bakso khas Jogja, Comfort Food yang Gurih, Lezat dan Nagih

Ternyata mie bakso dari kota gudeg sangat khas, selain mie dan bakso ada tambahan kondimen tahu goreng dan bakso goreng. Paling tidak itulah hasil ngebakso mulai dari yang viral seperti Mie Bakso PK, mie bakso sekitar rumah (Mie Bakso Bu Miyar, Mie Bakso Pak Pono) hingga yang dijajakan PKL. 

Varian mie bakso Kota Jogja sebetulnya mirip Bandung. Terbagi atas tiga macam, yaitu mie bakso ala Chinese food, mie bakso Solo (dengan ciri khas kondimen sawi dan taoge), serta mie bakso Bandung yang lebih dikenal sebagai bakso cuanki.

Mie bakso ala Chinese food yang saya temukan di Kota Jogja akan saya posting di tulisan berikut ya? Saya sudah coba beberapa, rasanya umami serta ngaddict banget.

Sedangkan Bakso cuanki ala Bandung, saya temukan pada bakwan kawi yang banyak beredar di Kota Jogja dan pernah saya tulis di sini:
Bakwan Kawi, Kelezatan Hidden Gem di Kampung Sudagaran 

Kali ini kita kupas bakso khas Jogja yang mirip mie bakso Solo, minus sayuran sawi dan taoge, dan diberi tambahan tahu goreng dan bakso goreng, khusus bakso biasa dan bakso goreng biasanya dibuat sendiri oleh penjual bakso.

Jadi jangan heran apabila menemukan rasa dan tekstur bakso biasa serta bakso goreng yang berbeda antar penjual, atau malah hal tersebut jadi kelebihan mereka ya?

Baca juga:
MieMu, Mie Lezat nan Sehat dari Tepung Singkong

Menikmati Kelezatan Fusion Food dalam Keteduhan Taman Saparua Bandung

Daftar Isi:

  • Mie Bakso, Comfort Food dengan Sejuta Kenangan
  • Beda Bakso Jogja dan Bakso Chinese Food
  • Bakso Jawi Bu Miyar, Kelezatannya Nagih Banget
  • Bakso Daging Sapi Pak Pono, Teh Legitelnya Wajib Pesan
  • Bakso PK, Kuliner Legendaris Wajib Coba 

Sebagai Travel Blogger, mie bakso jadi comfort food saya. Ada kenangan yang membekas di awal perkenalan saya dengan mie bakso. Udah lama banget, mungkin dimulai sejak saya mengenal jajanan.

Lahir dan besar hingga sekolah lanjutan atas di Sukabumi, saya tinggal di rumah Jalan Siliwangi 88, Sukabumi, suatu bangunan yang dulunya milik  warga Belanda yang meninggal dan dimakamkan di kota mungil berhawa sejuk tersebut.

Tempat tinggal kami tidak berpagar, sesuai budaya Belanda yang menganut nilai sosial bahwa tidak ada hal yang perlu ditutupi atau disembunyikan dari lingkungan sekitar serta nilai keagamaan yang mengajarkan kerendahan hati.

Sangat berbeda dengan budaya orang Indonesia, begitu melihat bangunan tidak berpagar dan terletak di lokasi yang ramai (Di samping rumah ada gang menuju pemukiman penduduk asli Kota Sukabumi), PKL segera gercep  menggunakannya sebagai tempat mangkal.

Selama belasan tahun banyak penjual makanan mangkal di depan rumah, seperti penjual mie bakso, penjual gorengan hingga penjual es cingcau (yang khas dengan sirup merah). Rame banget!

Sedihnya, almarhum ibunda gak suka anak-anaknya jajan. Menurutnya jajanan tersebut selain kurang bergizi, juga enggak higienis.

Hehehe iya sih, saya ngelihat penjual bakso hanya menggunakan sebuah ember (warna hitam) untuk mencuci mangkuk bakso. Satu ember untuk begitu banyak mangkuk secara berulang kali. Gimana bisa bersih?

Tapi justru larangan itulah yang membuat saya penasaran dan bikin termimpi-mimpi. Setiap punya uang jajan, saya akan membeli semangkuk mie bakso. Tentu saja harus disantap sambil ngumpet agar tidak diomeli ibunda tercinta.

Kisahnya jadi berbeda setelah saya hijrah ke Bandung dan punya uang sendiri. Saya bebas jajan mie bakso, termasuk ketika berkunjung ke luar kota, saya selalu menyempatkan jajan mie bakso, comfort food yang membangkitkan rasa nostalgia dan memberi ketenangan emosional.

nyiomas.my.id

Beda Bakso Jogja dan Bakso Chinese Food

Beberapa tahun silam, seorang sepupu yang tinggal di Jogja memperkenalkan saya pada mie bakso khas Jogja. Jadi lupa-lupa ingat, rasanya dulu pernah jajan mie bakso di Solo dengan kondimen yang sama.

Tapi sudahlah, kita anggap ini khas Jogja karena semua mie bakso yang saya coba di Kota Jogja, isinya hampir sama. Perbedaannya pada penambahan kondimen serta pastinya rasa bakso, sesuai pengakuan bahwa penjual membuat sendiri bakso (varian klasik) dan bakso goreng.

Kebetulan sejak tahun 2025 saya tinggal di Jogja untuk berobat, sambil menunggu anak saya pulang dari belajar di UK. Jadi bisa memuaskan diri hunting mie bakso khas Jogja dan membandingkannya dengan mie bakso Hong Kong (Chinese food) yang juga saya coba.

Ternyata kuah bakso menjadi pembeda. Tampilan kuah Chinese food sangat bening, jernih, dan nyaris tak ada lemak tebal yang mengambang, karena terbuat dari campuran kaldu ayam yang terkadang diperkaya dengan rebusan ebi serta tulang ikan.

Sedangkan kuah bakso Jogja terbuat dari kaldu tulang sapi (tetelan dan sumsum) yang direbus lama hingga menghasilkan ekstrak daging yang kuat. Tampilannya lebih keruh dengan rasa gurih pekat (bold), kaya lemak (berminyak), dan memiliki sentuhan manis gurih yang khas.

nyiomas.my.id

Bakso Jawi Bu Miyar, Kelezatannya Nagih Banget

Terletak di Jalan Jogonegaran No.55D, atau berseberangan dengan Hotel ibis Styles Yogyakarta (sekitar 500 meter dari Jalan Malioboro), bakso jawi Bu Miyar (saya tulis sesuai dengan spanduknya) konon merupakan salah satu bakso terbaik Kota Jogja.

Terbiasa memesan mie bakso lengkap, semula saya heran melihat pengunjung memilih tanpa mie. Ternyata porsi mie cukup banyak, jika gak segera disantap bakal agak lodoh/melar.

Selain itu Bakso Jawi Bu Miyar memang unggul pada rasa bakso yang meaty/ndaging, empuk dan kenyalnya pas. Saking suka dengan rasa baksonya, saya sering membeli versi mentah di Pasar Pathuk.

Harga semangkuk bakso Rp 28 ribu dengan isian standar: mie, bakso urat, bakso halus, bakso goreng , potongan tahu goreng, serta kuah yang  (sesuai permintaan) bisa ditambah tetelan dan gaji.

Tanpa mie, harganya menjadi Rp 29 ribu karena posisi mie akan diganti bakso, sehingga baksonya lebih banyak.

nyiomas.my.id

Bakso Daging Sapi Pak Pono, Teh Legitelnya Wajib Pesan

Letak Bakso Daging Sapi Pak Pono (saya tulis sesuai spanduk dan GMaps) hanya sekitar 200 meter dari Bakso Jawi Bu Miyar, tepatnya di Jalan Kemetiran Kidul nomor 33, gak jauh dari Hotel Royal Darmo Malioboro Jalan Kemetiran Kidul, nomor 54 Yogyakarta.

Saya mengenal Bakso Daging Sapi Pak Pono setelah mencoba versi PKL yang mangkal di depan rumah sekitar pukul 12.00 WIB. Harga seporsi cukup terjangkau, hanya Rp 10.000, sementara harga bakso Pak Pono Rp 16.000/porsi, sehingga jelas  “you get what you pay for" ya?

Jika dibandingkan dengan Bakso Jawi Bu Miyar, rasa baksonya kurang meaty namun oke, apalagi porsinya buat saya sangat pas. Mie-nya gak terlalu banyak, demikian pula ukuran 3 bakso halus serta potongan tahu goreng dan bakso goreng.

Sayang, bakso gorengnya keras. Meski lumayan lama direndam kuah bakso, tetep susah lunak. 

Namun yang bikin saya ketagihan justru teh manis-nya. Enak! Ada perpaduan rasa sepet, harum dan manis yang tepat, yang sayangnya gak bisa saya tiru.

Anak Pak Pono (owner/pemilik nama udah gak jualan, diteruskan  anak-anaknya) menjelaskan bahwa mereka meracik beberapa merek teh. Dia spill sih racikannya, tapi saya selalu gagal mengeksekusi. 😭😭

Oiya, ada hal unik yang sering saya temukan di sini:  Selain mie bakso, banyak pembeli memesan nasi.  Khas orang Indonesia pisan ya? Belum makan  jika belum makan nasi. 😀😀

(Eniwei di tengah menulis, mendadak saya pingin menyantap semangkuk bakso Pak Pono, sehingga segera lari ke sana (letaknya gak jauh dari rumah) sekalian ngisi tumbler dengan teh manis legitelnya 😀😀)

nyiomas.my.id

Bakso PK, Kuliner Legendaris Wajib Coba

Bakso dan Es Buah PK saya temukan kala hunting sepulang dari RS Akademik UGM. Lha jauh-jauh ke sana (7,9 km dari rumah) hanya untuk daftar konsul kan nyebelin banget. Serasa gak ada hasil apa pun.

Kebetulan dalam obrolan di Threads, pernah ada yang menyinggung soal Bakso PK telah eksis jualan di Jogja sejak 1973.  PK merupakan singkatan dari Jalan Pakuningratan, tempat awal warung bakso ini berdiri.

Selain di pusat, Bakso dan Es Buah PK punya 2 cabang, dan saya pilih cabang Jalan Kyai Mojo karena paling dekat dengan rumah, sekaligus mengincar kulineran berikutnya. Maklum banyak destinasi kuliner recommended di sepanjang jalan Kyai Mojo.

Agak berbeda dengan 2 destinasi bakso di atas yang menempati ruko/rumah, Bakso PK  termasuk PKL pinggir jalan dengan tempat makan semi permanen. Namun tentu saja, meski masih pagi, sesuai dengan statusnya sebagai legenda kuliner, hampir semua meja dipenuhi pelanggan.

nyiomas.my.id
es buah didominasi nanas dan sawo

Saya memesan 1 mangkuk mie bakso dan 1 porsi es buah. Harganya sesuai daftar yang ditempel di tembok, 1 porsi Rp 17.000, jika ingin menambah bakso goreng Rp 1.000/plastik. Sedangkan es buah Rp 11.000/porsi.

Beberapa karyawan Bakso dan Es Buah PK dengan T-shirt seragam bekerja sat set, membuat saya gak lama menunggu sajian 1 mangkuk bakso dan 1 porsi es buah yang tertutup es serut berwarna coklat.

Ada sedikit perbedaan tampilan Bakso PK, yaitu adanya bihun selain mie, serta tambahan sayur sawi hijau. Selebihnya sama dengan bakso khas Jogja lainnya.

Bagaimana rasanya? Kurang lebih sama, malah saya jadi bisa mengambil kesimpulan dari 4 penjual mie bakso (termasuk PKL depan rumah), yaitu rasa kuah yang gurihnya sangat tajam (termasuk rasa micinnya).

Pembeda ada pada bakso klasik dan bakso goreng yang dibuat sendiri oleh masing-masing penjual. Untuk selera saya, juaranya bakso buatan Bakso Jawi Bu Miyar.

Selebihnya sama karena bisa dibeli di pasar seperti potongan tahu pong (bagian dalam kopong, tidak ada isinya), serta mie yang juga bukan buatan sendiri.

Jadi jika kebetulan sedang kulineran di Jogja, gak bakal pusing pilih mie bakso khasnya kan ya? 

Baca juga:
Ngobrolin Tutupnya Waroeng Baso Cepot yang Punya Slogan “Hebringna Baso Urat”

Asyiknya Ngabakso di Bakso Djando Guntursari Bandung

Bakmi Godog, Kuliner Nonfusion Food yang bikin Kontroversi


No comments