Wedang Kulit Jeruk, Minuman Sedap dan Segar untuk Menjaga Imunitas Tubuh
Nonton drama China rupanya bermanfaat, salah satunya bikin saya mengenal pengobatan tradisional China. Seperti dalam drama China “The Best Thing” yang kembali digandrungi gara-gara diperankan Zhang Ling He, setelah doi sukses jadi Marquis of Wu’an dalam drama China “Pursuit of Jade”, dan sukses pula bikin penonton perempuan bermimpi jadi kekasihnya. 😀😀
Nah dalam drama China “The Best Thing”, Zhang Ling He berperan sebagai ahli pengobatan tradisional mengikuti jejak ibu dan kakeknya. Dalam drama berdurasi 28 episode tersebut penonton dicekoki pengetahuan tentang bermacam herbal yang bermanfaat untuk kesehatan.
Seperti bunga Magnolia liliiflora yang tidak hanya indah, tapi juga memiliki rasa pedas, bersifat hangat, melancarkan saluran meridian paru-paru dan lambung, mengusir hawa dingin, melancarkan hidung tersumbat.
Serta ada khasiat akar manis, huai shan, madu, jahe, mint, daun artemisia argyi (mugwort China), serta masih banyak lagi, baik yang familier maupun herbal asing (baru didengar), namun herbal yang bikin saya terbelalak dan langsung mengeksekusi adalah kulit jeruk.
Ya, saya baru tahu bahwa kulit jeruk bisa diolah menjadi herbal. Sebelumnya saya sudah rutin minum seduhan jahe dan terbukti mampu mengatasi batuk yang sering muncul.
Dulu, saya mudah terserang batuk. Bisa berminggu-minggu baru sembuh, dan itu ganggu banget. Ditambah seduhan kulit jeruk untuk meningkatkan imunitas tubuh bertambah, kayanya bakal oke ya?
Baca juga:
Keberlanjutan, Kunci Sukses Berkebun Vania Febriyantie
Ada Sayuran Ngumpet di Chicken Nugget dan Potatoes au Gratin
Daftar Isi:
- Perkenalan dengan Wedang Kulit Jeruk
- Herbal, Apakah Berbahaya untuk Tubuh?
- Kulit Jeruk Kering dan Manfaatnya
- Paduan Kulit Jeruk Kering dan Rempah Lain
- Cara Membuat Kulit Jeruk Kering
Ada alasan lainnya yang membuat saya mengeksekusi resep kulit jeruk kering. Sudah cukup lama saya menerapkan intermittent fasting (puasa berselang) agar tubuh tidak terlalu gemuk.
Obesitas tidak saja jadi sumber penyakit, juga harus dihindari oleh penderita Osteoartritis (OA) seperti saya. Menurut dokter, pada saat jalan kaki, setiap 1 kg kelebihan berat badan akan menambah beban sekitar 3 hingga 4 kg pada sendi lutut.
Intermittent fasting (IF) jadi pilihan saya untuk menurunkan BB. Karena IF di pagi hari hanya boleh makan/minum nol kalori, saya mengganti kopi manis dengan seduhan teh tawar (wedang teh) dan kemudian seduhan kulit jeruk.
Herbal, Apakah Berbahaya untuk Tubuh?
Sebagai orang eksakta, saya gak serta merta menerapkan pengobatan tradisional. Selama ini saya lebih percaya pengobatan modern karena telah melalui uji klinis, riset laboratorium, dan bukti ilmiah (medis), tidak demikian halnya dengan pengobatan tradisional yang pembuktiannya berdasarkan pengalaman turun-temurun (empiris).
Sehingga saya selalu check and recheck dan bertanya ke dokter sebelum menggunakannya. Umumnya mereka memperbolehkan asal tidak berlebihan dan tidak memicu interaksi obat medis yang saya minum.
Sewaktu searching, saya baru bahwa obat herbal diklasifikasikan menjadi tiga golongan berdasarkan tingkat pembuktian khasiat dan keamanannya.
Herbal adalah tanaman atau bagian tanaman (daun, akar, bunga, atau biji) yang mengandung zat aktif dan telah lama digunakan sebagai obat atau suplemen kesehatan.Tiga golongan obat herbal sebagai berikut:
Jamu
Ramuannya digunakan secara turun-temurun, manfaat jamu sebagai obat tradisional berdasarkan pengalaman budaya dan belum teruji secara klinis.
Obat Herbal Terstandar (OHT)
Untuk melihat khasiat dan keamanannya, bahan baku produk ini telah diekstrak dan melewati uji praklinis (uji laboratorium atau hewan).
Fitofarmaka
Jenis herbal tertinggi dengan khasiat dan keamanan yang serta telah teruji secara ilmiah melalui uji klinis langsung pada manusia, sehingga dapat disetarakan dengan obat medis modern.
Harganya lumayan mahal, anak saya pernah membelikan untuk menurunkan tekanan darah ( kebetulan waktu itu tekanan darah saya sedang tinggi)
Saya teringat perjalanan mempelajari pengobatan tradisional kala sedang membuka blog Catatan Harian Rani R Tyas. Blog ini banyak mengulas tips parenting modern, sementara sebagai pemerhati lingkungan hidup saya selalu berharap pengobatan tradisional diperkenalkan pada anak-anak sedini mungkin.
Banyak alasannya, diantaranya:
Mendorong Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Setelah tahu bahwa berbagai spesies tanaman, jamur, dan satwa ternyata berkhasiat untuk pengobatan, anak-anak akan lebih peduli, bahkan agar tidak punah, diharapkan mereka mau berusaha melestarikannya.
Mengurangi Jejak Karbon
Menurut penelitian, generasi yang dibesarkan dengan kemajuan teknologi AI (Gen Alpha dan Gen Beta) akan jauh lebih peduli lingkungan dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.
Penyebabnya bukan saja mereka tumbuh dengan realitas perubahan iklim yang nyata, juga orang tua mereka (generasi milenial dan Gen Z awal) paham bahwa lingkungan yang keberlanjutan bukan sekadar rekayasa tanpa makna.
Karena itu, pengetahuan tentang pengobatan tradisional akan mendorong mereka melakukan aksi mengurangi jejak karbon, dengan menciptakan ruang hijau yang membantu penyerapan karbon dan menjaga ekosistem mikro.
Pertanian Berkelanjutan
Ketika para orang tua jadul hanya mengetahui ekonomi sirkular sebagai konsep, anak-anak akan mempraktikkannya. Mereka memilih produk organik yang berarti juga mendorong petani menggunakan metode pertanian organik, dengan menghindari penggunaan pestisida buatan dan menjaga kesuburan tanah.
Kulit Jeruk Kering dan Manfaatnya
Apa manfaat mengonsumsi kulit jeruk kering? Apakah sama dengan buah jeruk segar. Walau jujur, gak apa-apa juga jika manfaatnya gak sebanyak jeruk segar. Toh, selama ini kulit jeruk cuma dibuang.
Jawabannya ternyata bukan kurang bermanfaat, melainkan “berbeda”. Namun keduanya saling melengkapi.
Daging buah jeruk kaya akan vitamin C untuk imunitas, sementara kulitnya lebih padat nutrisi seperti serat, minyak atsiri, dan antioksidan flavonoid yang kadarnya bisa mencapai 20 kali lebih tinggi daripada daging buahnya.
Khusus untuk meningkatkan imunitas tubuh, kulit jeruk kering memiliki manfaat sebagai berikut:
Tinggi Vitamin C
Konsentrasi vitamin C di kulit jeruk seringkali lebih tinggi dibandingkan daging buahnya. Ini sangat penting untuk merangsang produksi sel darah putih dan memperkuat sistem imun.
Kaya Antioksidan
Senyawa bioaktif di dalamnya membantu menetralkan radikal bebas dan mengurangi peradangan.
Sifat Antimikroba
Membantu tubuh menangkal berbagai bakteri dan virus penyebab penyakit.
Ternyata kulit jeruk kering sangat popular dalam pengobatan tradisional Tiongkok, dengan berbagai alasan:
- Banyak khasiatnya bagi kesehatan, diantaranya mengatasi masalah pencernaan, meredakan batuk, dan mengurangi mual.
- Kulit jeruk kering lebih mudah dihaluskan menjadi bubuk untuk digunakan sebagai aromaterapi, juga sebagai campuran teh dan rempah karena konsentrasi minyak atsiri yang lebih kuat.
- Apabila disimpan dengan benar, kulit jeruk kering lebih tahan lama dan tidak mudah berjamur jika disimpan dengan benar
Paduan Kulit Jeruk Kering dan Rempah Lain
Apakah saya boleh menyeduh kulit jeruk kering dengan teh? Kok sok ngide sih, nyampur teh dengan kulit jeruk kering? Maklum sebagai emak yang biasa hidup hemat, saya gak mau buang stok teh kering (bukan teh celup ya)
Untunglah jawabannya adalah:
Ya, kulit jeruk kering sangat baik dan aman diminum setiap hari bersama teh. Kombinasi ini kaya akan antioksidan, vitamin C, dan pektin yang bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh, melancarkan pencernaan, serta membantu mengontrol gula darah.Nah ketika beberapa waktu lalu saya ke Jogja dan melihat rempah secang (serutan kayu yang menghasilkan air rebusan berwarna merah alami dan kaya akan antioksidan), saya ngide lagi deh, menyampur kulit jeruk kering dengan secang, karena jawabannya oke.
Ya, air rebusan kulit jeruk kering dan kayu secang boleh diminum setiap hari, asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang wajar (tidak berlebihan) dan tidak sedang memiliki kondisi medis tertentu.
Kombinasi ini kaya akan antioksidan, bersifat anti-inflamasi, serta dapat membantu menghangatkan tubuh dan melancarkan pencernaan.
Setelah itu, tak terbendung lagi, saya pun mulai mengombinasikan kulit jeruk kering dengan rempah/herbal lain. Tujuannya untuk mengusir kebosanan sekaligus mempelajari herbal Indonesia yang ternyata sangat buanyaaaakkkk.
Cara Membuat Kulit Jeruk Kering
Buah jeruk apa yang bisa digunakan untuk membuat kulit jeruk kering? Jawabannya: Semua jeruk! Kecuali jeruk ukuran kecil karena bakal ribet membuang bagian putih yang terasa pahit.
Perbedaan buah jeruk hanya akan berpengaruh pada warna kulit jeruk kering. Seperti kulit jeruk kering dari buah jeruk garut akan berwarna kehitaman, berbeda dengan buah jeruk impor (sunkist, wokam dan lainnya) yang menghasilkan kulit jeruk kering berwarna kuning.
Nah sekarang kita eksekusi membuat kulit jeruk kering yang super mudah:
Cara Membuat Kulit Jeruk Kering
- Agar bebas dari sisa pestisida dan kotoran lain yang menempel, cuci bersih jeruk dengan menggunakan air mengalir dan sedikit baking soda atau sabun pencuci buah khusus.
- Setelah isi buahnya disantap, buang bagian putihnya yang terasa pahit. Kemudian gunting-gunting/iris-iris lembaran kulit jeruk menjadi sekitar 1- 1,5 cm, kemudian jemur, atau panggang dalam oven.
- Simpan kulit jeruk kering ke dalam stoples, jangan lupa sertakan Silica Gel Food Grade
- Kulit jeruk kering siap digunakan. Seduh dengan air panas selama 5–10 menit. Bisa tanpa gula seperti yang biasa saya konsumsi, atau bisa juga menambahkan sedikit perasan lemon dan madu murni.
Sedap!
Catatan:
Silica Gel Food Grade terbuat dari bahan alami yang tidak beracun, bebas dari Cobalt Chloride, dan aman bersentuhan langsung dengan makanan untuk menyerap kelembapan serta mencegah makanan menjadi apek atau melempem.
Umumnya berwarna bening atau putih. Hindari silica gel berwarna biru karena mengandung bahan kimia berbahaya.
Baca juga:
Jamu Bikin Sendiri vs Siap Minum, Kamu Pilih Mana?







No comments